HARI itu saya malas bertemu siapa pun, apalagi meladeni kere yang sekonyong-konyong mampir ke teras rumah. Sudah berkali-kali saya suruh Sutini menutup regol menjelang magrib. Syukur bukan Indah yang masuk. Terakhir kali herder Gusti Dar itu datang saya kewalahan menghalaunya pergi.
Gusti Dar, adik sepupu ibu saya, selalu tak terima jika saya mengusir anjing kebanggaannya. Sebetulnya saya tak keberatan mengajak anjing itu bermain, jika ada sedikit saja tanda kelembutan yang bisa saya temukan padanya. Tapi Indah sama sekali tidak lembut, ia cenderung kasar dan agresif. Ia minta perhatian dengan cara yang menyebalkan. Ia menggonggong keras sekali, berlari mengejar saya ke mana pun saya menghindar. Ia mengitari saya, menerjang dengan tubuhnya yang berat, menjilati lutut saya.
Andai saja Gusti Dar tidak memelihara Indah. Andai saja Gusti Allah tidak mengirim Mbok Jimah sebagai pengganti kegilaan Indah.
Sudah terlambat untuk menutup regol. Meski gontai, perempuan tua itu melangkah ke arah saya setelah melewati regol yang menganga. Tiga-lima ayunan kaki lagi ia akan sampai di bibir teras. Jika itu Indah, saya akan langsung melemparnya dengan sandal jepit sambil menjerit menyuruhnya pergi. Tapi saya tak berkutik saat Mbok Jimah menghampiri saya.
Meski saya juga tak menemukan tanda kelembutan pada dirinya, setidaknya Mbok Jimah tidak menggonggong atau menjulurkan lidah tebal kebiruan yang berliur menjijikkan. Saya kira wajah mungilnya itu sudah masam sejak lahir. Dan berbeda dari Indah yang tiap minggu dibawa ndoro-nya ke sekolah anjing, Mbok Jimah tentu tak punya pelatih yang bisa membantunya memperbaiki mulut yang merengut dan sikapnya yang tak sopan. Saya tak boleh membencinya karena nasibnya itu. Maka dengan enggan saya menyapanya.
‘’Mau jenang, Mbok?’’
Hari itu Sabtu Legi, weton saya. Sutini membuat bubur tujuh rupa agar saya tidak bikin gara-gara. Saya belum makan bagian kesukaan saya, yang separo putih gurih dan separo manis gula merah. Tapi saya biarkan Mbok Jimah makan sepiring yang saya sodorkan begitu pantatnya menyentuh ubin. Saya ingin ia segera menghabiskannya dan pergi.
‘’Terima kasih, Ndoro...’’ Ia bergumam, lebih seperti menggerutu ketimbang bersyukur.
Ia menggeser duduknya lebih ke sudut, memonyongkan mulut yang keriput, meniupi jenang panas itu, dan melahapnya dengan ketenangan seorang gelandangan.
Sejak itu Mbok Jimah sering mampir ke rumah. Dan saya selalu hanya pasrah. Sutini tak pernah mengusirnya seperti ketika ia membantu saya mengusir Indah yang nyelonong dan bikin gaduh seisi rumah. Mungkin kami membiarkan Mbok Jimah karena ia tak suka bikin gaduh. Dia pandai membuat dirinya terlihat tanpa perlu terdengar. Memang tak bisa dikatakan kami menyukainya, tapi kami membiarkannya ketika tanpa terdengar gelandangan itu telah menguasai salah satu sudut teras kami yang luas. Meski kami waswas jika Gusti Dar benar-benar membuktikan ucapannya setelah gerundelannya tidak kami gubris.
Gusti Dar pernah mengancam akan melaporkan kami kepada Ngarsa Dalem karena memelihara seorang gelandangan di dalam rumah kagungan dalem. Itu karena ia sangat gusar Mbok Jimah dibiarkan bertandang, sementara Indah selalu tersingkirkan. Baginya lebih baik memelihara anjing atau kuda yang bibit-bobotnya jelas, daripada manusia gelandangan yang entah mbrojol dari mana. Tapi Gusti Dar keliru, kami tidak memelihara perempuan tua itu. Ia hanya singgah, kapan pun tak betah ia akan enyah.
Mbok Jimah bukannya tak pernah punya rumah. Ia hanya tak ingin lagi punya rumah. Setidaknya begitulah kisah yang pernah saya dengar dari Sutini yang gemar meladeni ocehan gelandangan itu tentang masa lalunya. Sebelum kini orang kembali mendongeng tentang naga yang menggeliat di bawah tanah, mengakibatkan begitu banyak orang kehilangan nyawa dan harta, bertahun lalu Mbok Jimah muda sudah kehilangan miliknya. Konon, di kota lain ia dulu tinggal, bersama Mak Jing, majikannya yang sebatang kara. Hidup sederhana di sebuah ruko tua di Pecinan, mereka menjalankan usaha jual-beli barang bekas. Sampai api membakar ruko itu dan beberapa ruko lain milik tetangganya. Juga Mak Jing, yang terlalu renta untuk menyelamatkan diri.
Mbok Jimah tak pernah percaya bahwa petaka terjadi karena ulah seekor naga. Ia tak percaya pada hal-hal yang tak disaksikannya sendiri. Tak ada naga atau lempeng yang bergeser di dasar samudera. Ia hanya percaya gempa terjadi begitu saja, karena begitulah yang ia saksikan. Ia juga meyakinkan Sutini tentang penyebab kebakaran di subuh itu. Jelas bayang-bayang yang ia lihat bukan mulut naga yang menyemburkan api. Ia tahu betul, dibutuhkan sepasang tangan agar kebakaran terjadi. Sepasang tangan yang melempari rukonya dengan batu pada malam-malam sebelumnya.
Saat ditanyai polisi, ia ceritakan apa yang ia lihat, juga ancaman-ancaman yang pernah ia terima. Tapi Mbok Jimah heran, kenapa tangan-tangan itu tak pernah ditangkap bahkan untuk sekadar ditanyai. Ia juga tak mengerti kenapa para pemilik ruko lain diam saja, memunguti barang-barang yang masih bisa diselamatkan, dan segera pindah. Karena tak punya barang yang tersisa untuk dipungut, Mbok Jimah tak memungut apa pun. Sejak itu ia hanya mengenal tempat-tempat singgah, bukan rumah.
***
IA menunduk, tidak sedih, hanya diam seperti buntalan besar teronggok di sudut teras. Hanya sehelai rambutnya yang tipis dan putih sesekali bergerak ditiup angin siang. Saya memanggil Sutini agar membangunkannya dan menyuruhnya pergi. Sebentar lagi banyak kerabat keraton lewat di depan teras menuju bangsal kulon. Mereka sudah lama mendengar gosip yang disebar Gusti Dar tentang gelandangan gila yang ngenger di rumah kami. Saya tak mau membenarkan gosip itu. Apalagi Mbok Jimah memang sudah jarang datang.
Sejak gempa beberapa waktu lalu Mbok Jimah menganggap kami semua gila karena masih tinggal di rumah, meski sempat pula mengungsi di teras. Rumah kami tidak roboh, tapi ada beberapa retakan pada dinding dan plafon. Kami tak mau ambil risiko. Apalagi gempa susulan kadang masih terjadi dan memperparah keadaan. Saya kira saat itu Mbok Jimah senang karena ndoro-ndoro akhirnya ngere di teras bersamanya. Saya sempat mendapatinya menyeringai sinis pada Gusti Dar dan anak-anaknya yang sedang mendirikan tenda di depan rumah.
‘’Ndoro edan...’’ Ia lalu menggerutu sambil ngeloyor pergi saat melihat mereka mengecat rambut di dalam tenda, merah marun dan biru menyala.
Sesekali saja ia masih datang untuk mengambil jatah makan di rumah kami yang waktu itu dijadikan posko bantuan. Tapi ia akan berhenti dua-tiga langkah sebelum teras dan hanya mengulurkan tangan untuk menerima nasi bungkus atau baju bekas yang disodorkan relawan. Seolah jika sedikit saja tubuhnya menyenggol teras, langit-langit teras akan runtuh.
Sesudah itu, cukup lama Mbok Jimah berkelana meninggalkan kami. Sampai pagi itu saya dapati ia duduk tidur di teras. Saya biarkan ia hingga menjelang siang, hingga di kejauhan terdengar derum mobil para sepupu ibu yang datang untuk arisan trah di bangsal kulon.
Saya tak pernah menduga nasib gelandangan itu. Tapi apa yang terjadi kemudian membuat saya tak lagi berani mengingat bagaimana dulu saya terheran melihat perut gendutnya, membayangkan betapa rakusnya ia, apa saja yang ia makan hingga perutnya bisa sebuncit itu. Seandainya saya pingsan saat itu dan tak perlu mengingat ini semua. Tapi saya tidak pingsan.
***
GUSTI Dar terisak memeluk Indah. Anjing itu masih menggeram, tak mau melepas sisa sobekan kain dari mulutnya. Suasana amat mencekam, semua orang bergeming menunggu reaksi obat penenang yang disuntikkan mantri hewan ke bokong Indah, sampai binatang itu benar-benar diam.
Ibu memaksa Gusti Dar membantu kami. Dengan berat hati Gusti Dar menuruti Ibu. Ia masih tidak terima Indah dipukuli. Tapi Ibu tidak peduli, anjing itu keterlaluan.
Baiklah, bukan salah Indah jika Mbok Jimah tidak bangun. Siang panas itu seharusnya Mbok Jimah mengaisi sampah di bawah pohon asem dekat rumah kami, dan giliran Indah rebah di teras. Bukan salah Indah jika ia penasaran dan sesaat kemudian, setelah saya kembali dari menyambut tamu, saya lihat ia menghampiri kere itu.
Mbok Jimah masih diam bersandar pada tembok ketika Indah menjilati wajahnya. Anjing itu lantas memperhatikan kain panjang yang membalut erat perut gendut Mbok Jimah, ujungnya menjuntai di lantai. Indah mengendus, menggigit dan menariknya. Ia menggeram.
Rupanya ia masih mengenali kain bekas yang dilempar Gusti Dar ke dalam kardus sumbangan untuk korban gempa beberapa bulan lalu. Indah menggeram dan menarik sekali lagi. Tapi kain itu tak mau lepas dan Mbok Jimah tak juga bangun. Indah menggeram lebih garang dan menarik lebih sengit hingga sedikit demi sedikit tubuh perempuan tua itu bergoyang dan bergeser.
Saya merasa harus berbuat sesuatu. Saya melirik sebuah sapu, tapi urung mengambilnya. Indah tampak makin marah dan terlalu mengerikan untuk dilawan hanya dengan segagang sapu. Maka saya mundur teratur, sementara Indah dengan ganas menarik tubuh itu hingga ke tengah teras. Saya melompat ke atas kap mobil Ibu yang diparkir di depan teras, dan hanya bisa menjerit ngeri saat gigi-gigi tajam Indah mulai mengoyak selubung perut Mbok Jimah.
***
TAK ada yang menyentuh gombal yang terburai di tengah teras itu. Saya hanya diam, mematung, sambil menahan kencing. Orang-orang memilih menenangkan Ibu yang teriak-teriak mengayunkan gagang sapu, memukuli Indah. Tapi, Sutini yang perkasa saja tidak sanggup membuatnya berhenti, Ibu malah memukul lebih keras dan menyalak, ‘’Nggak usah ngurusi aku! Itu ada orang dimakan anjing! Sana, ditolong! Heh, kok malah diam?! Kalian anjing, ya?!’’
Tapi tetap tak ada yang mau menyentuhnya. Mereka lebih mengkhawatirkan keselamatan Ibu, karena Indah bisa saja balik menyerang. Gusti Dar tergopoh datang dan meraung-raung melihat Indah terkaing-kaing kesakitan. Akhirnya Ibu kelelahan, membanting sapunya dan menghampiri Mbok Jimah.
‘’Kamu memang anjing, Mah. Modar nggak bilang-bilang...’’
‘’Mbak, please... biar Sutini aja yang ngurusi...,’’ Gusti Dar terisak.
‘’Jeng Dar nggak usah cerewet, ayo bantu aku!’’ napas Ibu tersengal menahan jengkel, ‘’Atau anjingmu itu aku suntik mati!’’
Bukan salah Indah jika ia tak mengerti. Mbok Jimah sudah mati sejak pagi.
***
KAMI menggotong Mbok Jimah yang sudah kaku ke atas dipan yang diletakkan di teras. Kami meluruskan kedua tungkai dan menegakkan kepalanya.
Lalu kami lucuti gombal itu. Lapis kain pertama yang sudah diudal-udal Indah memuntahkan sebuah dompet kosong, dua sendok makan, dan kaleng bekas susu bubuk. Lapis kedua menyimpan dua lembar kebaya usang. Lapis ketiga berisi sebuntal kaos kaki dan kemeja kotak-kotak. Lapis keempat sebuah kutang dan buku tulis. Lapis kelima garpu dan sandal jepit... Lapis keenam...Lapis ketujuh...
Akhirnya kami temukan kulit yang menyelimuti perut cekung itu. Benda-benda tajam yang digembolnya telah melukainya. Dengan tangan dingin Ibu memenceti kulit yang bengkak dan berlubang itu, hingga beberapa ekor belatung keluar. Sebelum muntah saya menyingkir. Lagipula saya merasa sangat lelah, ikut membongkar rumah Mbok Jimah.
(Cerpen ini merupakan salah satu dari 20 Cerpen Indonesia Terbaik 2009, Anugerah Sastra Pena Kencana)
(Cerpen ini merupakan salah satu dari 20 Cerpen Indonesia Terbaik 2009, Anugerah Sastra Pena Kencana)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar