Minggu, 01 Januari 2012

Mbok Jimah

Cerpen Naomi Srikandi

HARI itu saya malas bertemu siapa pun, apalagi meladeni kere yang sekonyong-konyong mampir ke teras rumah. Sudah berkali-kali saya suruh Sutini menutup regol menjelang magrib. Syukur bukan Indah yang masuk. Terakhir kali herder Gusti Dar itu datang saya kewalahan menghalaunya pergi.
Gusti Dar, adik sepupu ibu saya, selalu tak terima jika saya mengusir anjing kebanggaannya. Sebetulnya saya tak keberatan mengajak anjing itu bermain, jika ada sedikit saja tanda kelembutan yang bisa saya temukan padanya. Tapi Indah sama sekali tidak lembut, ia cenderung kasar dan agresif. Ia minta perhatian dengan cara yang menyebalkan. Ia menggonggong keras sekali, berlari mengejar saya ke mana pun saya menghindar. Ia mengitari saya, menerjang dengan tubuhnya yang berat, menjilati lutut saya.
Andai saja Gusti Dar tidak memelihara Indah. Andai saja Gusti Allah tidak mengirim Mbok Jimah sebagai pengganti kegilaan Indah.
Sudah terlambat untuk menutup regol. Meski gontai, perempuan tua itu melangkah ke arah saya setelah melewati regol yang menganga. Tiga-lima ayunan kaki lagi ia akan sampai di bibir teras. Jika itu Indah, saya akan langsung melemparnya dengan sandal jepit sambil menjerit menyuruhnya pergi. Tapi saya tak berkutik saat Mbok Jimah menghampiri saya.
Meski saya juga tak menemukan tanda kelembutan pada dirinya, setidaknya Mbok Jimah tidak menggonggong atau menjulurkan lidah tebal kebiruan yang berliur menjijikkan. Saya kira wajah mungilnya itu sudah masam sejak lahir. Dan berbeda dari Indah yang tiap minggu dibawa ndoro-nya ke sekolah anjing, Mbok Jimah tentu tak punya pelatih yang bisa membantunya memperbaiki mulut yang merengut dan sikapnya yang tak sopan. Saya tak boleh membencinya karena nasibnya itu. Maka dengan enggan saya menyapanya.
‘’Mau jenang, Mbok?’’
Hari itu Sabtu Legi, weton saya. Sutini membuat bubur tujuh rupa agar saya tidak bikin gara-gara. Saya belum makan bagian kesukaan saya, yang separo putih gurih dan separo manis gula merah. Tapi saya biarkan Mbok Jimah makan sepiring yang saya sodorkan begitu pantatnya menyentuh ubin. Saya ingin ia segera menghabiskannya dan pergi.
‘’Terima kasih, Ndoro...’’ Ia bergumam, lebih seperti menggerutu ketimbang bersyukur.
Ia menggeser duduknya lebih ke sudut, memonyong­kan mulut yang keriput, meniupi jenang panas itu, dan melahapnya dengan ketenangan seorang gelandang­an.
Sejak itu Mbok Jimah sering mampir ke rumah. Dan saya selalu hanya pasrah. Sutini tak pernah mengusirnya seperti ketika ia membantu saya mengusir Indah yang nyelonong dan bikin gaduh seisi rumah. Mungkin kami membiarkan Mbok Jimah karena ia tak suka bikin gaduh. Dia pandai membuat dirinya terlihat tanpa perlu terdengar. Memang tak bisa dikatakan kami menyukainya, tapi kami membiarkannya ketika tanpa terdengar gelandangan itu telah menguasai salah satu sudut teras kami yang luas. Meski kami waswas jika Gusti Dar benar-benar membuktikan ucapannya setelah gerundelannya tidak kami gubris.
Gusti Dar pernah mengancam akan melaporkan kami kepada Ngarsa Dalem karena memelihara seorang gelandangan di dalam rumah kagungan dalem. Itu karena ia sangat gusar Mbok Jimah di­biarkan bertandang, sementara Indah selalu ter­singkirkan. Baginya lebih baik memelihara anjing atau kuda yang bibit-bobotnya jelas, daripada manusia gelandangan yang entah mbrojol dari mana. Tapi Gusti Dar keliru, kami tidak memelihara perempuan tua itu. Ia hanya singgah, kapan pun tak betah ia akan enyah.
Mbok Jimah bukannya tak pernah punya rumah. Ia hanya tak ingin lagi punya rumah. Setidaknya begitulah kisah yang pernah saya dengar dari Sutini yang gemar meladeni ocehan gelandangan itu tentang masa lalunya. Sebelum kini orang kembali mendongeng tentang naga yang menggeliat di bawah tanah, mengakibatkan begitu banyak orang kehilangan nyawa dan harta, bertahun lalu Mbok Jimah muda sudah kehilangan miliknya. Konon, di kota lain ia dulu tinggal, bersama Mak Jing, majikannya yang sebatang kara. Hidup sederhana di sebuah ruko tua di Pecinan, mereka menjalankan usaha jual-beli barang bekas. Sampai api membakar ruko itu dan beberapa ruko lain milik tetangganya. Juga Mak Jing, yang terlalu renta untuk menyelamatkan diri.
Mbok Jimah tak pernah percaya bahwa petaka terjadi karena ulah seekor naga. Ia tak percaya pada hal-hal yang tak disaksikannya sendiri. Tak ada naga atau lempeng yang bergeser di dasar samu­dera. Ia hanya percaya gempa terjadi begitu saja, karena begitulah yang ia saksikan. Ia juga meyakinkan Sutini tentang penyebab kebakaran di subuh itu. Jelas bayang-bayang yang ia lihat bukan mulut naga yang menyemburkan api. Ia tahu betul, dibutuhkan sepasang tangan agar kebakaran terjadi. Sepasang tangan yang melempari rukonya dengan batu pada malam-malam sebelumnya.
Saat ditanyai polisi, ia ceritakan apa yang ia lihat, juga ancaman-ancaman yang pernah ia terima. Tapi Mbok Jimah heran, kenapa tangan-tangan itu tak pernah ditangkap bahkan untuk sekadar ditanyai. Ia juga tak mengerti kenapa para pemilik ruko lain diam saja, memunguti barang-barang yang masih bisa diselamatkan, dan segera pindah. Karena tak punya barang yang tersisa untuk dipungut, Mbok Jimah tak memungut apa pun. Sejak itu ia hanya mengenal tempat-tempat singgah, bukan rumah.
***
IA menunduk, tidak sedih, hanya diam seperti buntalan besar teronggok di sudut teras. Hanya sehelai rambutnya yang tipis dan putih sesekali bergerak ditiup angin siang. Saya memanggil Sutini agar membangunkannya dan menyuruhnya pergi. Sebentar lagi banyak kerabat keraton lewat di depan teras menuju bangsal kulon. Mereka sudah lama mendengar gosip yang disebar Gusti Dar tentang gelandangan gila yang ngenger di rumah kami. Saya tak mau membenarkan gosip itu. Apalagi Mbok Jimah memang sudah jarang datang.
Sejak gempa beberapa waktu lalu Mbok Jimah menganggap kami semua gila karena masih tinggal di rumah, meski sempat pula mengungsi di teras. Rumah kami tidak roboh, tapi ada beberapa retakan pada dinding dan plafon. Kami tak mau ambil risiko. Apalagi gempa susulan kadang masih terjadi dan memperparah keadaan. Saya kira saat itu Mbok Jimah senang karena ndoro-ndoro akhirnya ngere di teras bersamanya. Saya sempat mendapatinya menyeringai sinis pada Gusti Dar dan anak-anaknya yang sedang mendirikan tenda di depan rumah.
‘’Ndoro edan...’’ Ia lalu menggerutu sambil ngeloyor pergi saat melihat mereka mengecat rambut di dalam tenda, merah marun dan biru menyala.
Sesekali saja ia masih datang untuk mengambil jatah makan di rumah kami yang waktu itu dijadikan posko bantuan. Tapi ia akan berhenti dua-tiga langkah sebelum teras dan hanya mengulurkan tangan untuk menerima nasi bungkus atau baju bekas yang disodorkan relawan. Seolah jika sedikit saja tubuhnya menyenggol teras, langit-langit teras akan runtuh.
Sesudah itu, cukup lama Mbok Jimah berkelana meninggalkan kami. Sampai pagi itu saya dapati ia duduk tidur di teras. Saya biarkan ia hingga menjelang siang, hingga di kejauhan terdengar derum mobil para sepupu ibu yang datang untuk arisan trah di bangsal kulon.
Saya tak pernah menduga nasib gelandangan itu. Tapi apa yang terjadi kemudian membuat saya tak lagi berani mengingat bagaimana dulu saya terheran melihat perut gendutnya, membayangkan betapa rakusnya ia, apa saja yang ia makan hingga perutnya bisa sebuncit itu. Seandainya saya pingsan saat itu dan tak perlu mengingat ini semua. Tapi saya tidak pingsan.
***
GUSTI Dar terisak memeluk Indah. Anjing itu masih menggeram, tak mau melepas sisa sobekan kain dari mulutnya. Suasana amat mencekam, semua orang bergeming menunggu reaksi obat penenang yang disuntikkan mantri hewan ke bokong Indah, sampai binatang itu benar-benar diam.
Ibu memaksa Gusti Dar membantu kami. Dengan berat hati Gusti Dar menuruti Ibu. Ia masih tidak terima Indah dipukuli. Tapi Ibu tidak peduli, anjing itu keterlaluan.
Baiklah, bukan salah Indah jika Mbok Jimah tidak bangun. Siang panas itu seharusnya Mbok Jimah mengaisi sampah di bawah pohon asem dekat rumah kami, dan giliran Indah rebah di teras. Bukan salah Indah jika ia penasaran dan sesaat kemudian, setelah saya kembali dari menyambut tamu, saya lihat ia menghampiri kere itu.
Mbok Jimah masih diam bersandar pada tembok ketika Indah menjilati wajahnya. Anjing itu lantas memperhatikan kain panjang yang membalut erat perut gendut Mbok Jimah, ujungnya menjuntai di lantai. Indah mengendus, menggigit dan menariknya. Ia menggeram.
Rupanya ia masih mengenali kain bekas yang dilempar Gusti Dar ke dalam kardus sumbangan untuk korban gempa beberapa bulan lalu. Indah menggeram dan menarik sekali lagi. Tapi kain itu tak mau lepas dan Mbok Jimah tak juga bangun. Indah menggeram lebih garang dan menarik lebih sengit hingga sedikit demi sedikit tubuh perempuan tua itu bergoyang dan bergeser.
Saya merasa harus berbuat sesuatu. Saya melirik sebuah sapu, tapi urung mengambilnya. Indah tampak makin marah dan terlalu mengerikan untuk dilawan hanya dengan segagang sapu. Maka saya mundur teratur, sementara Indah dengan ganas menarik tubuh itu hingga ke tengah teras. Saya melompat ke atas kap mobil Ibu yang diparkir di depan teras, dan hanya bisa menjerit ngeri saat gigi-gigi tajam Indah mulai mengoyak selubung perut Mbok Jimah.
***
TAK ada yang menyentuh gombal yang terburai di tengah teras itu. Saya hanya diam, mematung, sambil menahan kencing. Orang-orang memilih menenangkan Ibu yang teriak-teriak mengayunkan gagang sapu, memukuli Indah. Tapi, Sutini yang perkasa saja tidak sanggup membuatnya berhenti, Ibu malah memukul lebih keras dan menyalak, ‘’Nggak usah ngurusi aku! Itu ada orang dimakan anjing! Sana, ditolong! Heh, kok malah diam?! Kalian anjing, ya?!’’
Tapi tetap tak ada yang mau menyentuhnya. Mereka lebih mengkhawatirkan keselamatan Ibu, karena Indah bisa saja balik menyerang. Gusti Dar tergopoh datang dan meraung-raung melihat Indah terkaing-kaing kesakitan. Akhirnya Ibu kelelahan, membanting sapunya dan menghampiri Mbok Jimah.
‘’Kamu memang anjing, Mah. Modar nggak bilang-bilang...’’
‘’Mbak, please... biar Sutini aja yang ngurusi...,’’ Gusti Dar terisak.
‘’Jeng Dar nggak usah cerewet, ayo bantu aku!’’ napas Ibu tersengal menahan jengkel, ‘’Atau anjingmu itu aku suntik mati!’’
Bukan salah Indah jika ia tak mengerti. Mbok Jimah sudah mati sejak pagi.
***
KAMI menggotong Mbok Jimah yang sudah kaku ke atas dipan yang diletakkan di teras. Kami meluruskan kedua tungkai dan menegakkan kepalanya.
Lalu kami lucuti gombal itu. Lapis kain pertama yang sudah diudal-udal Indah memuntahkan sebuah dompet kosong, dua sendok makan, dan kaleng bekas susu bubuk. Lapis kedua menyimpan dua lembar kebaya usang. Lapis ketiga berisi sebuntal kaos kaki dan kemeja kotak-kotak. Lapis keempat sebuah kutang dan buku tulis. Lapis kelima garpu dan sandal jepit... Lapis keenam...Lapis ketujuh...
Akhirnya kami temukan kulit yang menyelimuti perut cekung itu. Benda-benda tajam yang digembolnya telah melukainya. Dengan tangan dingin Ibu memenceti kulit yang bengkak dan berlubang itu, hingga beberapa ekor belatung keluar. Sebelum muntah saya menyingkir. Lagipula saya merasa sangat lelah, ikut membongkar rumah Mbok Jimah.

(Cerpen ini merupakan salah satu dari 20 Cerpen Indonesia Terbaik 2009, Anugerah Sastra Pena Kencana)

Sebuah Jazirah di Utara

Cerpen Linda Christanty

KETIKA ayahnya menyerah pada Izrail*) di malam itu, dia bercinta dengan sebuah jazirah gelap di utara. Dia merasa dunianya dipenuhi kelepak burung elang dan hujan panah api tiada henti, berbeda dengan kematian yang sepenuhnya rahasia dan akhirnya tiba. Dia memejamkan mata, membayangkan desau angin, ladang gandum, dan pohon-pohon zaitun di suatu tempat yang sayup.
KETIKA ayahnya menyerah pada Izrail*) di malam itu, dia bercinta dengan sebuah jazirah gelap di utara. Dia merasa dunianya dipenuhi kelepak burung elang dan hujan panah api tiada henti, berbeda dengan kematian yang sepenuhnya rahasia dan akhirnya tiba. Dia memejamkan mata, membayangkan desau angin, ladang gandum, dan pohon-pohon zaitun di suatu tempat yang sayup.

Sebelum kesakitan memuncak di bawah sana, matanya terbuka sekali lagi, menatap wajah lelaki itu. Begitu lembut. Begitu kanak-kanak. Dia tiba-tiba ingin memberikan seluruh dirinya sekarang juga, lalu menjelma udara agar tinggal di dalam darah dan paru-paru lelaki itu, menjaganya dari maut.

Ketika jari-jarinya menyentuh punggung lelaki itu, dia tak lagi merasa takut. Dia meresapi harum yang asing dan jauh, menyukai aroma ini meski sedikit gelisah karena begitu dekat dengan seseorang untuk pertama kali. Ketika lelaki itu menyeka pipinya lembut-lembut dengan jari-jari yang hangat, dia semakin tenang. Dengannya, dia telah melampaui apa yang tak terbayangkan. Kini semua hal sulit bagai simpul-simpul tali terurai, dan dia akan terus berpikir seperti ini.

Ayahnya adalah sisa-sisa kenangan dari sebuah negeri yang tak dikenalnya, selain nama dan garis batas di peta dunia, di utara. Kata “utara” itu seolah menjodohkan dia dan lelaki ini, seseorang yang seperti ayahnya terdampar di tempat yang barangkali tak pernah menghendaki mereka. Dia tak akan bisa melupakan keduanya; cinta ayahnya kepadanya dan cintanya kepada lelaki itu. Keduanya abadi, tiada tergantikan, seperti semua yang disebut “pertama kali”.

Di lantai dia melihat kalung emas lelaki itu tercampak bagai ular mati. Mata rantai persegi, dengan bandul yang juga persegi. Namun, dia membiarkan benda itu di tempatnya, tanpa keinginan memungut lalu meletakkannya di meja. Dia tiba-tiba merasa sedih, karena menemukan sesuatu yang tak memiliki kaitan apa pun dengan dirinya. Seperti baling-baling pesawat terbang di gunung salju: keduanya bukan komposisi yang sesuai, tapi musibah telah mempertemukan benda dan tempat tersebut sebagai hal wajar. Kini dia lebih merasa sebagai gunung salju, sesuatu yang pasif dan cedera.

Cahaya kota di luar hanya tampak bagai garis tipis vertikal yang bersinar, membelah tirai jendela tepat di tengah-tengah. Dia pelan-pelan meraih gaun terusan putihnya yang bermotif bunga-bunga hitam kecil, terbuat dari katun, yang ringan dan sejuk. Dia mengenakan gaun itu cepat-cepat, lalu  teringat bahwa malam itu semua orang tengah berjaga di rumah sakit. Rasa gugup mulai datang.

Dari atas ranjang kusut mirip kapal karam dengan tumpukan kain layar basah, lelaki itu menggeliat bangkit seraya berkata dalam bahasa Perancis yang tiada dipahaminya, mungkin bergumam pada diri sendiri, mungkin benar-benar tertuju kepadanya. Menyadari betapa panjang diam yang terjadi, membuat si lelaki tersenyum dan beralih ke bahasa Inggris yang seketika jadi bisikan.

“Kita bisa memesan makan malam sekarang? Saya aslinya memang suka makan. Dokter bilang saya punya masalah dengan kolesterol, tapi itu  kan kata dokter.” Lelaki itu kemudian mengerdipkan sebelah matanya.

Sepasang mata coklat gelap itu berkilat seperti marmer, dengan bulu-bulu hitam lentik di seputarnya, mirip sepasang mata ayah tapi dengan kilau riang sekaligus nakal.

Dia menjawab, “tentu saja,” lalu meraih buku menu di meja, dan dia belum mengenakan celana dalam. Dari bawah tumpukan kemeja dan pantalon lelaki itu di sisi tempat tidur, menyembul kain hitam berenda yang seolah dirinya dan sejumlah perempuan lain di belahan timur dan negeri ini, yang diperangkap patriarki; kata yang kurang puitis untuk puisi.  Dia seketika jadi peka terhadap tanda-tanda, sebagaimana yang terjadi ketika dia belajar tentang film dan semiotika di minggu pertama di universitas hampir dua puluh tahun lalu. Kereta api, menara, cerutu, pantai, nyala unggun, burung gagak, dan warna-warna adalah tanda-tanda yang terus berbicara kepadanya. Dunia modern menamai pembacaan tanda sebagai ilmu, sedang dunia lama menyebutnya nujum; menafsir apa yang tersembunyi dari yang nyata-nyata hadir di hadapanmu.

Dan dia menyukai tanda-tanda. Seperti permainan. Seperti teka-teki.

Seminggu yang lalu, dia menjenguk ayahnya di rumah sakit. Selimut ayahnya tersingkap. Tungkai yang kurus pucat, sepasang kaki yang kelihatan mengecil bagai batang kayu kering, kaos kaki wol hitam. Dengan suara pelan ayahnya mengeluh tentang Al Fatihah yang tiada lagi diingatnya utuh, sehingga ibu menuntun ayah melafalkan ayat itu berulang-ulang dan terdengar seperti nyanyian sedih dari dua orang letih. Dia terpaku di samping tiang infus, sambil sesekali memandangi tetes-tetes glukosa jatuh.

Dia tidak akan berakhir dengan lelaki itu sebagaimana ayah dan ibunya.

Dia telah menelusuri  jazirah kata-kata untuk menggambarkan hubungan kilat yang rumit ini dan yang paling mungkin hanyalah membubuhkan alasan-alasan, seakan membuat apa yang fana jadi berharga: bom curah, ranjau darat, senjata kimia, granat, peluru, roket, kecelakaan mobil, pembunuhan politik, atau racun radioaktif atau arsenik. Pertemuan dan perpisahan mereka, dia dan lelaki itu, semata-mata untuk tujuan mulia. Begitulah dia menghibur diri.

Lelaki itu telah bersumpah untuk mengelana, semula untuk melupakan kata “utara” yang menguntitnya serupa hantu jahat dari pinggiran Paris yang bergentayangan mengawasi pabrik-pabrik, kata yang membayang-bayangi orang-orang pertama dalam keluarganya yang menjejakkan kaki di situ. Di benak lelaki itu tempat-tempat baru akan membebaskannya dari kata “utara”,  tempat-tempat yang kebebasan justru tak ada atau baru diawali, dan membuktikan bahwa kata itu telah berkembang biak di mana-mana laksana sel kanker yang menggerogoti ayah. Kini lelaki itu bermimpi membantu siapa pun yang seperti dirinya.

Dia melihat bayangan memantul di cermin dinding. Dia memegang buku menu, dan di belakangnya seseorang yang baru dikenalnya dua hari lalu memungut-mungut apa yang berserak di lantai.

“Setelah ini saya akan menulis sebentar. Boleh?” tanya si lelaki, sambil mencium bibirnya sekilas.

Dia hanya mengangguk. Dia sungguh-sungguh tak keberatan. Mereka semakin punya banyak kesamaan, pikirnya, sama-sama suka merenung, berpikir, menulis, dan melawan apa yang musykil.

“Kamu pucat sekali.” Lelaki itu mengambil buku menu dari tangannya, lalu bergumam menyebut nama-nama masakan, membuka halaman-halaman. Menunjuk ini, menunjuk itu.

Dia merasa agak demam.

Ayahnya ingin dia mengawini seseorang dari keturunan yang terpuji, kepada siapa dia menjadi patuh dan apa yang dikatakan seseorang tadi menjadi kutuk serta berkah untuknya seumur hidup. Dalam hati dia tersinggung dan protes: mengapa dia harus tunduk pada seseorang yang tak akan pernah sederajat dengan ibu yang melahirkannya, seseorang yang tak merasa sakit ketika dia sakit, pun dia tak pernah makan dan menyusu dari tubuhnya. Dan kepada orang semacam itu dia harus memberikan tubuhnya pertama kali.

Namun, kata ayah, lelaki semacam itu akan berziarah bersamanya ke tempat di mana burung-burung pembawa batu api pernah menaklukkan pasukan gajah, di mana Ibrahim menunjukkan rasa setia yang agung dengan mengorbankan putranya dan ditukar Allah dengan domba, di mana setelah 700 ratus tahun terpisah sepasang kekasih bertemu lagi, di mana perang dan cinta diperingati tiada henti.

Itulah pesan Ayah. Sebab dia harus menjaga darah leluhurnya dari cemar dan hina oleh manusia dan para jin dan iblis yang menyamar.

Dia telah diselimuti doa-doa berumur ribuan tahun, yang mengitari dan melindunginya bagai kabut abadi.  Tak seorang pun bisa menyentuhnya. Dimuliakan atau dinista ternyata sama-sama memberi pedih, pikirnya.

Namun, ayahnya lupa bahwa dalam diri putrinya ini mengalir darah suku Akad, nenek moyang mereka yang mengembarai padang-padang tandus dan tak mengenal tempat bermukim.

Lelaki itu adalah jazirah yang membentang dalam pikirannya. Dia akan membiarkannya tetap seperti itu, karena sesuatu yang luas selalu memberi banyak kejutan.

Tapi telepon selulernya bergetar. Sekali. Sebuah pesan pendek dari adik perempuannya. Pesan yang terlambat, karena saluran yang terganggu atau padat, atau alasan lain yang tidak dia pahami: Ayah sudah tidak ada. Sangat tenang perginya, dengan sendi-sendi bercahaya. Semua yang hidup pasti merasakan mati.

Dia terdiam. Dunianya jadi pipih. Lelaki itu jadi lebih kurus dari semestinya. Meja, kursi, ranjang, lemari, pun begitu kurus. Ketika lelaki itu menyeka dahinya lembut, dia mencium aroma ganjil yang segar. Sedih dan nyaman berbaur. Sepasang mata coklat itu memandanginya bingung. Ketika pandangannya menjadi normal, diraihnya kerudungnya di lantai. Dia tidak akan ke mana-mana, hanya ingin sendiri sebentar.

Banda Aceh, Februari 2008

*) malaikat maut dalam agama Islam
(Cerpen ini merupakan salah satu dari 20 Cerpen Indonesia Terbaik 2009, Anugerah Sastra Pena Kencana)

Gerimis yang Sederhana

Cerpen Eka Kurniawan

Kenapa pula aku tak mengajaknya bertemu di China Town, pikir Mei. Ia masih berada di belakang kemudi mobil yang disewanya dari Budget di sekitar bandara seharga 30 dollar sehari. Biasanya ia pergi dengan meminjam mobil milik sepupu atau bibinya, tetapi hari ini kedua mobil tersebut tengah dipakai, dan mereka hanya bisa mengantarnya ke penyewaan. Telah lama ia sebenarnya berpikir untuk memiliki mobil sendiri, harganya sepertiga dari harga di Jakarta, tetapi dia masih punya persoalan dengan keterbatasan garasi.
Mei belum juga berhenti. Ia sudah dua kali mengelilingi Jack in the Box dan dari kaca jendela ia bisa melihat Efendi duduk menantinya. Ia juga bisa melihat seorang pengemis berkeliling di antara pengunjung restoran. Ia hanya memperlambat laju mobil tanpa menghentikannya, bersiap mengelilingi Jack in the Box untuk ketiga kalinya. Mencoba menepis kebosanan menunggu, ia mencoba mendengarkan Bad Day yang dinyanyikan Daniel Powter dari salah satu radio FM.
Lalu ia memandangi wajahnya di kaca spion tengah. Ia terlihat agak gugup. Setelah 1998, pikirnya, ini kali pertama aku akan bertemu orang dari Jakarta. Kata sepupunya, kini wajahnya terlihat lebih terang daripada saat pertama kali datang ke Amerika. Ia tak terlalu menyadarinya. Barangkali karena ia terlalu sering melihat wajahnya, tak melihat perubahan apa pun. Ada sejumput rambut keluar dari topi Los Angeles Dodgers-nya, yang dipasang agak miring. Mei menyibakkan rambutnya ke balik telinga.
Ia kembali melintasi bagian depan restoran tersebut, dan melihat Efendi masih di sana melahap burgernya. Begitu pula pengemis tersebut. Saat itulah telepon genggamnya sekonyong berbunyi. Mei menoleh, ternyata itu dari sepupunya. Ia mengangkat telepon.
“Gimana? Udah ketemu cowok itu?”
Mei tak langsung menjawab. Ujung matanya melirik ke arah Efendi di kejauhan. “Belum,” gumamnya. Sebelum sepupunya mengatakan apa pun, ia segera menambahkan, “Tetapi, aku sudah melihatnya. Ia ada di dalam restoran, sedang melahap burger. Aku masih di mobil, mungkin menunggu ia selesai makan dan keluar dari sana.”
“Kenapa kamu enggak menghampirinya?”
Lagi-lagi Mei tak langsung menjawab, malah terdengar suara desah napasnya. Ia menggigit bibirnya, menimbang apakah ia akan menjawab sejujurnya kenapa ia tidak juga menemui lelaki itu, atau mencoba berdalih dengan mengatakan hal lain. Di ujung sana, juga terdengar desah napas menunggu, seolah tahu Mei akan mengatakan sesuatu. Akhirnya Mei membuka mulut kembali.
“Ada pengemis di restoran.”
“Apa?”
“Ada pengemis di ….”
“Ya ampun, Mei. Ini Amerika. Pengemis di sini enggak sama de ….” Suara di sana tak melanjutkan kalimat tersebut, seolah disadarkan kepada sesuatu. Setelah bisu sejenak, sepupunya kemudian menambahkan, “Maaf.”
“It’s OK,” kata Mei.
Meskipun begitu, sepupunya tampak tak yakin dengan ucapan Mei. Ia tak bicara, tetapi tak juga ada tanda-tanda akan mengakhiri pembicaraan. Namun, akhirnya kembali bertanya, “Mei, kamu sungguh baik-baik aja?”
“Ya, aku baik-baik aja.”
Untuk kali pertama, Efendi melihat seorang pengemis masuk restoran. Saat itu ia hendak makan siang di Jack in the Box, tempat ia akan bertemu seorang perempuan yang diperkenalkan oleh temannya. Sambil mengapit Los Angeles Times yang dibelinya seharga 25 sen dari kotak koran, ia duduk menunggu burger pesanannya tersedia. Saat itulah si pengemis membuka pintu dan masuk. Pengemis itu meracaukan sesuatu, dalam bahasa Inggris yang terdengar aneh bagi Efendi.
Restoran cepat saji tersebut tengah penuh oleh para pekerja serta anak-anak sekolah bersama para pengantar mereka. Yang mengejutkannya, tak seorang pun di antara pengunjung merasa terganggu oleh kehadiran seorang pengemis. Tidak pula pelayan dan petugas kasir restoran. Pengemis itu akan diseret petugas keamanan jika melakukannya di satu restoran cepat saji di Jakarta, pikirnya. Bahkan di warung tegal pinggir jalan, pemilik warung akan buru-buru memberinya receh, bukan sebab kehendak berderma, tetapi sejenis perintah untuk segera meninggalkan warung. Tetapi, di sini, di satu sudut Los Angeles, ia melihat seorang pengemis berkeliaran bebas di dalam restoran.
Efendi mencoba mengacuhkan kehadiran pengemis tersebut dan berpikir tentang seperti apa perempuan kenalan yang akan ditemuinya. Ia mencoba memikirkan apa yang akan dikatakannya jika perempuan itu muncul, “Hai, apa kabar?” Atau, “Sudah lama tinggal di Los Angeles?” Ia masih memikirkan cara-cara membuka percakapan, barangkali bertanya hal-hal praktis menjalani kehidupan sehari-hari yang harus diperhatikannya. Ia berharap perjumpaan mereka akan terjadi sesederhana mungkin.
Pengemis itu menggendong buntalan gendut yang tampaknya berisi seluruh kekayaannya. Rambutnya coklat terbakar, menggumpal, dan di sana-sini tampaknya sudah menempel dengan kulit kepalanya. Si pengemis mengenakan mantel Adidas yang tak lagi jelas warnanya, mungkin sumbangan dari dinas sosial atau sejenisnya. Kakinya dilindungi sepatu boot yang masuk ke dalam celananya. Sejenak dipandanginya seluruh isi restoran sebelum menghampiri dua orang sopir truk yang tengah melahap burger sambil berbincang di meja dekat pintu.
“Receh, Tuan?” Pengemis itu menyodorkan telapak tangannya. Kali ini bahasa Inggrisnya jelas terdengar.
Semua pengemis menadahkan tangan, pikir Efendi. Ia sedang melamun ketika nomor antreannya diteriakkan pelayan, membuatnya tergeragap dan segera berdiri, berjalan menuju konter. Sambil menenteng nampan, ia mengisi gelasnya dengan minuman soda sampai buihnya tumpah, dan kembali ke meja. Ia tak lagi memerhatikan pengemis itu, matanya memandang ke kaca jendela, berharap melihat perempuan yang ditunggunya menyeberangi jalan. Tetapi, perempuan itu belum juga muncul. Efendi segera melahap burgernya sambil membuka lipatan koran.
Tiba-tiba pengemis itu telah berada di sampingnya, dengan telapak tangan terjulur ke arahnya. Ceracau di mulutnya yang pertama-tama membuat Efendi mendongak. Segera Efendi merogoh saku celana, mengeluarkan recehan. Ia ingat di sana ada penny, dime, quarter. Ia menyerahkan semua recehnya ke telapak tangan si pengemis, setelah sebelumnya menyelipkan dua quarter ke sakunya yang lain, persediaan untuknya membeli koran besok pagi.
“Kuharap Tuan berjumpa perempuan manis,” kata si pengemis.
Ya, ya, doakan perempuan yang akan datang ini memang manis, gumam Efendi. Bukankah Tuhan selalu mengabulkan doa orang-orang yang teraniaya?
Efendi kembali melahap burgernya dan tak lagi peduli dengan pengemis tersebut.
Mei mengajaknya ke daerah Downtown. Berbelok dari Freeway, mereka melaju menuju First Street dan Mei menunjukkan letak Music Center, juga menunjukkan Dorothy Chandler Pavilion. Kata Mei, selain di Shrine Auditorium, penghargaan Oscar kadang dilaksanakan juga di sana. Mereka terus melaju melewati gedung-gedung teater yang berderet. Sepanjang perjalanan tersebut, entah kenapa, justru Mei yang banyak bicara.
Mei sendiri sebenarnya agak terkejut menemukan dirinya secerewet itu. Mungkin itu cara bawah sadar menanggulangi kegugupan. Mungkin aku begitu girang bertemu makhluk dari Jakarta. Efendi hanya memandangi tamasya melalui kaca jendela.
Dari First Street mereka berbelok ke Grand Avenue, berbelok lagi hingga mereka tiba di Little Tokyo, dan Efendi tak juga bicara. Little Tokyo tampak lebih seperti mal daripada sebuah permukiman orang-orang Jepang. Di sepanjang jalan berderet toko-toko suvenir, berselang-seling dengan toko buku, toko obat serta toko kelontong aneka barang khas Jepang. Di salah satu sisi East First Street tampak gedung cantik yang ternyata Kuil Budhis Koyosan. Saat itulah tiba-tiba Efendi berkata,
“Tadi ada pengemis.”
“Mana?” tanya Mei agak terkejut, sambil menoleh ke pinggir jalan.
“Tadi, di Jack in the Box.”
Terdengar Mei mendesah lega. Ia hanya menoleh sekilas ke arah Efendi sebelum kembali memerhatikan jalan di depan yang agak padat. Mei berpikir barangkali lelaki itu sama gugupnya, hingga sekonyong bicara tentang pengemis yang ditemuinya. Seakan- akan tak ada hal penting lainnya di dunia ini, gumamnya dalam hati. Ia sedang berancang-ancang untuk membicarakan keadaan di Indonesia atau mengenai rencana program kuliah yang akan diambil Efendi, sebelum tiba-tiba ia berpikir barangkali melanjutkan perbincangan mengenai pengemis bisa mencairkan keadaan.
“Aku juga melihatnya, pengemis itu,” kata Mei setelah lama terdiam.
“Pengemis yang pakai mantel Adidas?”
“Ya.”
“Ayo kita cari pengemis it….”
“Tidak. Tidak.” Mei memotong dengan cepat.
Penolakan Mei demikian tiba-tiba, membuat Efendi terdiam dengan mulut terkatup. Ia kembali memandang tamasya di luar kaca jendela mobil, kali ini dengan tatapan gelisah, memandang orang-orang yang berlalu-lalang di trotoar. Menghindari daerah Skid Row yang tak terlalu nyaman, mereka kembali berbalik arah. Efendi menoleh ke arah Mei dengan sudut matanya, harus mengakui bahwa perempuan itu tampak cantik, dengan rambut ekor kudanya menyembul dari bagian belakang topi. Namun, sejujurnya ia sedang tidak bisa memikirkan perempuan cantik saat ini. Yang ada di kepalanya hanyalah pengemis dengan buntalan gombal di Jack in the Box.
“Maaf soal tadi,” kata Mei tiba-tiba. “Aku agak trauma dengan pengemis.”
“Oh ….” Efendi tak tahu harus berkomentar apa. Yang jelas, harapannya untuk mencari pengemis tadi serasa sirna. Paling tidak, sangat jelas ia tak mungkin mengajak atau meminta bantuan Mei untuk mencarinya. Itu membuat Efendi kembali terdiam. Meski kali ini matanya tak melayap ke pinggiran trotoar, Efendi tampak tenggelam dalam pikirannya sendiri.
“Pengemis tadi penting, ya?” tanya Mei dengan hati-hati.
“Eh, enggak,” Efendi agak tergeragap. “Aku cuma heran ada pengemis di sini.”
Mei tertawa, namun mencoba menahan diri untuk tidak menerangkan betapa salahnya apa yang dipikirkan kebanyakan orang mengenai Amerika. Setelah tawanya reda, dengan suara nyaris berbisik, Mei berkata,
“Tahun 1998 di Jakarta, seorang pengemis nyaris me …,” Mei tak melanjutkan kata-katanya, kebingungan. “Gimana ya, aku mengatakannya?”
“Maaf.” Efendi nyaris terperanjat, mengerti apa yang tidak dikatakan Mei. “Maaf.”
“Tak apa. Aku sudah jauh lebih baik.” Seperti anak belasan tahun, Mei mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya membentuk huruf “V” sambil tersenyum.
Efendi membalas senyum tanpa suara itu. Kali ini mereka sudah kembali ke Fifth Street dan melintasi Perpustakaan Pusat Los Angeles. Gedungnya tampak aneh, sejenis percampuran gaya art deco murni dengan struktur kaca yang menjulang ke langit. Kedua sayapnya dihiasi ornamen-ornamen yang eksentrik.
“Boleh aku menceritakan sesuatu?” tanya Efendi tiba-tiba.
“Ya, ya?”
“Aku memberi pengemis itu semua recehanku, hanya menyisakan dua quarter.”
Mei menoleh dan tersenyum. Menunggu Efendi melanjutkan ceritanya.
Efendi menahan napas dan membuangnya perlahan. Ia berkata tanpa menoleh ke arah Mei, “Aku tak sadar cincin kawinku ada di saku celana, sekarang lenyap bersama receh-receh itu.”
Mei kembali menoleh dan berseru, “Apa? Bercanda, kan? Cincin kawin?”
“Ya, cincin kawin.” Efendi mengangguk sambil tersenyum kecut.
“Bagaimana bisa cincin kawin disimpan di saku celana?” tanya Mei sambil melirik ke jari-jemari tangan Efendi. Jari-jari itu memang polos belaka, tanpa cincin kawin, hanya ada bekas coretan bolpen di jempol, serta tahi lalat di jari telunjuk kiri.
Efendi tak mengatakan apa pun, bahkan tidak menoleh ke Mei, hanya memandang ke depan. Sisa senyum kecutnya masih membayang di bibirnya. Sekonyong Mei mengerti situasinya. Perempuan itu tertawa tak tertahankan, seolah inilah hari paling lucu dalam hidupnya. Ia mengguncang bahu Efendi dan menghentikan mobilnya di sisi kanan.
“Ya, ya, aku tahu,” kata Mei sambil menahan tawanya. “Aku juga pernah kenal seorang lelaki yang selalu mencopot cincin kawinnya setiap bertemu perempuan baru.”
Efendi segera menghindari tatapan Mei, menahan senyumnya sendiri.
Mei mengambil tisu dan mengusap ujung matanya. Sambil membetulkan topi di kepalanya, serta masih tertawa kecil, ia berkata, “Baiklah. Ayo kita cari pengemis itu.” Ia menoleh ke belakang, berancang-ancang untuk memutar mobil yang dikendarainya. Lagi-lagi kemudian Mei tertawa, sambil memukuli kemudi dan berkata, “Hampir sepuluh tahun dan aku belum pernah ketawa serupa ini. Lelaki memang tolol sekali, ya?”
Mei masih tertawa, sepanjang jalan terdengar serupa gerimis yang sederhana.

Eka Kurniawan (16 Desember 2007)
(Cerpen ini merupakan salah satu dari 2o Cerpen Terbaik indonesia 2009, Anugerah Pena Kencana)


Cincin Kawin

Cerpen Danarto

Ketika ibu mendapatkan cincin kawinnya berada di dalam perut ikan yang sedang dimakannya, seketika ibu terkulai di meja makan, pingsan. Lalu koma sekitar satu minggu, kemudian ibu meninggal dunia. Sejak saat itu sejarah hidup keluarga kami diputar ulang. Seperti digelar di kamar keluarga, juga di pekarangan belakang rumah, hari demi hari diperlihatkan malaikat betapa cara kerja langit tak mempunyai patokan. Tak dapat ditebak. Tak terduga. Dalam mengarungi pemandangan yang terbentang di hadapan, kami tak tahu benar apakah itu pemandangan alam atau lukisan pemandangan alam di atas kanvas.

Kami juga sering turun dari kendaraan umum lalu beramai-ramai menambal aspal jalan yang mengelupas. Atau mendorong bus kami yang terjerembab banjir. Pemandangan indah, pemandangan suram, semua disajikan kepada kami.

Kami harus jujur, kami sekeluarga bukan kumpulan orang-orang baik tapi kami mematuhi rambu-rambu lalu-lintas. Hidup kami baik-baik saja sampai gempa yang berkekuatan dahsyat itu jatuh dari angkasa. Seluruh bangunan porak-poranda sampai sekecil-kecilnya rata dengan tanah. Nama, watak, kelakuan, pikiran, emosi, keberuntungan, dan nasib jelek, berputar-putar di dalam kubangan rajah tangan yang sudah dicetak di dalam K.T.P. yang tersimpan dalam segel laminasi dengan warna emas.

Jika kami bongkar, apa satpam tidak marah? Jika tidak kami bongkar, kami megap-megap. Tapi itulah harga mati dari rantai yang sudah telanjur bergandengan.

Hari itu hari yang mendidih. Walau hujan sehari-harinya, Desember yang hitam-pekat oleh bara yang menganga telah membayangi hidup kami sekeluarga setiap detiknya. Hari belum tinggi benar ketika ayah diseret ke tepi Sungai Brantas bersama puluhan orang --laki-laki dan perempuan-- yang duduk dengan mata tertutup dan tangan terikat ke belakang. Mereka basah-kuyup menggigil kedinginan oleh hujan dan kepanasan oleh hantu yang mengintip dari balik kancing baju mereka. Persis gundukan tanah yang tumbuh berderet-deret menghiasi sungai, mereka gundukan-gundukan yang tak dikenal. Gundukan semak belukar yang setiap saat dibabat supaya kelihatan rapi.

Ketika itu mata saya mengintip dari balik semak dalam hujan lebat yang tak mau tahu. Mata yang berumur sekitar dua puluh delapan tahun. Mata yang menatap tajam di antara tetesan hujan deras itu. Saya menyaksikan satu per satu dari leher orang-orang yang duduk termangu-mangu setelah disambar kilatan putih menyemburkan cairan merah dengan deras ke udara. Lalu tubuh-tubuh yang masih duduk tak berkepala itu didorong terjungkal ke sungai. Tubuh-tubuh itu tenggelam lalu tersembul kembali. Dalam sekejap mayat-mayat yang mengapung-apung itu memenuhi seluruh permukaan Sungai Brantas.

Rasanya hujan bertambah deras. Para petugas yang telah melaksanakan perintah itu, dalam keadaan basah-kuyup berlarian dengan pedang yang telanjang berkilatan oleh cahaya petir, menuju sejumlah truk yang telah kosong, lalu tancap gas meninggalkan kawasan itu. Dengan menjerit-jerit memanggili ayah, saya yang menggigil dalam hujan penuh geledek menyambar-nyambar, berlari menyusuri tepi sungai mengikuti mayat-mayat yang mengapung dibawa deras air.

Lalu saya terjun ke sungai berusaha keras mencari jenazah ayah. Saya menyembul dan menyelam di antara jenasah-jenasah itu, mencoba mengingat kembali baju apa yang dipakai ayah. Rasanya seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Hujan yang sangat deras menyebabkan permukaan air sungai penuh uap. Saya megap-megap. Saya berenang menepi setelah usaha saya sia-sia.

Mayat-mayat embun, taruhlah di nampan, jadi hidangan suci dari bau tangan yang gatal. Menyayat-nyayat dada, menyayat-nyayat air liur yang dijilati petir. Mayat-mayat yang menyembunyikan nama, watak, kelakuan, pekerjaan, emosi, elan vital. Mayat-mayat, puluhan, ratusan ribu, carilah dalam map dari para pencari data. Para pencari data yang berdatangan dari seantero dunia.

Memanggili ayah, memanggili nama dari halaman yang hilang. Mayat-mayat yang begitu mengerti mengantarkan kepala-kepala yang timbul tenggelam dalam air. Saya tidak bisa mengerti. Saya tidak bisa mengerti.

Yang mana tubuh ayah? Yang mana jenazah ayah? Saya mengikuti terus tumpukan mayat-mayat itu yang terus diseret sungai sampai menuju entah. Saya berlari terus, saya berlari terus, saya berlari terus . . .

Hari-hari yang sangat berat bermunculan. Hari-hari yang sangat berat yang harus kami panggul. Saya dikeluarkan dari pekerjaan saya sebagai pemasar barang-barang kebutuhan dapur karena dianggap tidak bersih lingkungan. Begitu juga kakak perempuan saya, Retno, guru SMP. Masih untung, adik saya, Ning, yang bekerja di sebuah usaha kerajinan rakyat, alhamdulillah, masih boleh bekerja. Mungkin karena Ning masih kecil. Sementara itu uang tabungan ibu semakin menipis.

Waktu itu kabar merebak, ikan-ikan yang harganya masih murah sebagai lauk, mulai ditinggalkan karena di dalam tubuh ikan-ikan itu biasa ditemukan potongan jari, bola mata, usus, maupun barang-barang yang menempel di tubuh-tubuh mayat yang memenuhi Sungai Brantas.

Kami masih bertahan makan ikan karena harganya semakin murah, sampai ibu menemukan cincin kawinnya yang dipakai di jari ayah. Hari-hari semakin bertambah berat bagi kami bertiga yang semakin lemah menjalaninya, ketika kami merawat ibu yang koma satu minggu lamanya dengan makanan seadanya yang sangat tidak pantas dan menguburkannya pada hari ke delapan.

Kami bertiga menangis dengan airmata yang menusuk-nusuk hulu hati, mengantarkan jenazah ibu yang diusung oleh para tetangga yang kasihan melihat penderitaan kami. Di gundukan kuburan itu, Ning menangis sejadi-jadinya sambil mencakar-cakar tanah gundukan.

Beberapa bulan kemudian merupakan hari-hari teror dan horor menghantui kami karena di waktu dini hari kami sering terbangun dari tidur terkaget-kaget oleh gedoran orang-orang. Mereka merangsek masuk mencari buron. Mengoprak-oprak kamar tidur kami, memeriksai kolong tempat tidur, dipan, lemari pakaian, dapur, plafon, maupun kebun belakang. Sering Ning terbangun dari tidur menjerit-jerit memanggil ayah, memanggili ibu. Baru reda setelah dipeluk Retno. Sungguh saya tidak bisa mengerti mengapa kami kecebur dalam kubangan begini rupa tetapi kami harus bertahan atau kami hancur berantakan. Saya bekerja serabutan. Apa saja saya kerjakan untuk bisa bertahan hidup. Termasuk jadi tukang sapu pasar.

Hari-hari yang mengerikan itu sering mendorong nyawa kami sampai di tenggorokan. Nyawa yang digondeli raga sekuat-kuatnya. Supaya tidak terlepas. Supaya tetap betah menghuni di dalam tubuh kami dalam keadaan sengeri apa pun. Duh, raga, gondelilah nyawa.

Rasanya tubuh kami tinggal kulit pembalut tulang. Kecantikan Retno yang mewarisi kecantikan ibu, lenyap. Retno tinggal kering kerontang, tanpa seyum, tanpa harapan. Begitu juga Ning yang tampak lebih cantik dari kakaknya, persis anak gelandangan yang memakan apa saja supaya perut tidak lapar. Segala puji bagi Allah Yang Maha Suci, kami masih memiliki rumah tempat kami berlindung dan tempat kami menangis sepuas-puasnya.

Diam-diam saya sering mengunjungi kuburan ibu. Saya tumpahkan segala unek-unek sambil berlelehan air mata. Juga saya mendoakan ibu semoga Allah mengampuni dosa-dosanya dan mengaruniai ibu kebahagiaan di akhirat. Kadang saya merasa ibu hadir di samping saya yang membuat saya menangis sejadi-jadinya.

Saya juga sering menapak-tilasi tempat ayah terduduk di tepi sungai bersama puluhan orang sebelum dieksekusi. Saya meraba-raba pasir yang mungkin keringat dari kaki ayah masih tersisa. Saya memeluk dan menangisinya sambil memohon Allah mengampuni dosa-dosanya dan mengaruniai ayah kenyamanan di akhirat.

Ayah adalah kepala SMP. Semua kegiatan ayah berkisar antara rumah dan sekolah. Hampir tak pergi ke mana-mana. Jika sekolah piknik, ayah tak pernah ikut. Ia menugaskan guru yang lebih muda. Ayah cukup berbahagia mendampingi ibu yang sibuk dengan usaha kateringnya. Ayah tak tertarik politik. Beliau murni seorang pendidik. Setiap kali saya terbangun tengah malam atau dini hari, ayah dan ibu tampak sedang khusyuk beribadah yang membuat saya malu hati karena siapa tahu sedikit banyak sapuan ibadahnya juga untuk keselamatan hidup saya, seorang anak yang barangkali saja tidak memiliki dimensi spiritual, kurang bersyukur, tak menyadari dilahirkan oleh sepasang orang tua yang selalu menginjakkan kakinya di halaman surga, di mana tak semua orang mampu pergi ke sana.

Sampai malam malapetaka itu mengetuk pintu rumah kami dan membawa ayah pergi. Untuk sesaat, saya, ibu, Retno, dan Ning tertegun, sama sekali tidak tahu apa yang sedang terjadi. Orang-orang yang menggelandang ayah begitu garang, juga tak bersedia memberi alasan.

Beberapa tetangga yang ikut jadi korban berkumpul di rumah kami, saling bertanya boleh jadi di antara kami ada yang jauh lebih mengerti akan situasi yang terjadi.

Di rumah kami inilah semuanya bertangis-tangisan meluapkan kesedihan masing-masing, seperti gaung yang tak henti-hentinya, tak bisa dimengerti, tak bisa dimengerti, tak bisa dimengerti . . .

Yang saya takutkan setelah meninggalnya ibu, Retno dan Ning tergoncang jiwanya sehingga menjadi tidak waras. Saya ikuti terus perkembangan jiwa keduanya. Saya cukup lega, keduanya cukup sehat, hanya saja kesehatan Retno dari hari ke hari terus memburuk.

''Bertahanlah, Retno,'' bisik saya di telinga Retno yang membujur kaku dan panas. ''Jangan kecewakan ayah dan ibu. Jangan bikin ayah dan ibu menangis di dalam kuburnya. Kamu harus bangun dan bekerja. Kita bertiga harus bekerja supaya ayah dan ibu bangga.''

Ning memeluk erat-erat Retno sambil menangis keras-keras.

Setelah sakit beberapa lamanya, Retno muntah darah. Karena ketiadaan obat dan makanan yang baik, akhirnya Retno meninggal.

Retno saya kuburkan di samping kuburan ibu. Setiap hari saya kunjungi kuburannya yang menyadarkan saya bahwa saya telah gagal menyelamatkan keluarga kecil ini. Apalagi Ning pergi meninggalkan saya entah ke mana.***

Tangerang, 20 Januari 2008 
(Cerpen ini merupakan salah satu dari 20 Cerpen Indonesia Terbaik 2009, Anugerah Sastra Pena Kencana)