Sabtu, 31 Desember 2011

Sonata

Cerpen Lan fang


Do
Adakah kau saksikan aku mendengarkanmu? 1)
Padahal aku tidak bisa mendengarkanmu. Tetapi aku ingin kau tahu bahwa aku sedang mendengarkanmu. Padahal kau tidak bisa menyaksikanku aku sedang mendengarkanmu. Tetapi kau bisa mendengarku seperti aku bisa menyaksikanmu.
Baiklah. Kalau begitu akan kuceritakan saja kepadamu.
Kusaksikan kau melentingkan denting di dalam hening, di dalam sunyi yang meraja. Bertakhta dengan mahkota sepi. Karena tidak ada sebuah suara pun yang mampu kutangkap. Tetapi aku mampu menyaksikan kau menusukkan senyap dari matamu, mata tanpa warna.
Matamu mengingatkanku kepada mata Kemala, perempuan paria 2) yang sangat mencintai Sidharta. Cinta yang tak pantas di mata kasta. Sehingga harus diberangus di dalam hangus. Cinta yang ditebus dengan membutakan kedua matanya agar ia tidak bisa memandang cinta lagi, tidak bisa memancarkan kangen lagi.
Apakah karena matamu sesenyap buta Kemala, maka kau ciptakan cinta dari nada-nada?
‘’Dengarkan, ini sonata,’’ 3) bibirmu bergerak pelan.
‘’Ya. Aku sedang menyaksikanmu,’’ sahutku.
Aku yakin kau mendengar kata-kataku.
Re
Jangan lupa, di sini ada yang gelisah. 4)
Di sini sepi. Terlalu sepi sampai menggelisahkan. Bagaimana denganmu? Kurasa kau tidak pernah merasa sepi karena kau punya tuts-tuts yang menciptakan lagu. Adapun tuts-tuts yang kumiliki selalu bertanya sendiri, menjawab sendiri, berbicara sendiri. Tetapi sejak mengenalmu, aku jadi suka berbicara padamu, bercerita untukmu, bertanya kepadamu, menanti jawabanmu. Walau tidak ada satu bunyi pun yang kudengar darimu. Tetapi bukankah kau mendengarku?
Kau tidak perlu melihatku seperti aku melihatmu. Karena aku malu bila kau bisa melihat gelisah di mataku. Gelisah yang sudah terlalu lelah mendesah. Tentang malam yang semakin terasa panjang dan aku terjebak di dalamnya. Gelisah hendak menyaksikanmu duduk di depan pianomu. Gelisah hendak bercerita padamu. Apakah kau juga punya rasa gelisah yang sama?
‘’Ceritakan padaku tentang kisah kayu remuk,’’ kau menuntaskan kegelisahanku.
Mi
Tapi bukankah masih ada langit yang tak pernah tertutup pelupuknya, yang menerima segala yang terbersit bahkan dari mulut si tuli dan si buta? 5)
‘’Aku tak mengerti ceritamu,’’ katamu ketika kuselesaikan sebuah kisah. Kuceritakan tentang seorang lelaki yang begitu rajin mengumpulkan reremahan serbuk. Itu remuk-remuk yang tak pernah diperhatikan orang. Tetapi dipadatkannya menjadi batang arang yang menebarkan hangat dari baranya. Berwarna hitam kemerahan. Seperti hati yang menyimpan kerinduan. Ketika api menyalakannya, ia tidak menghanguskan. Tetapi lebam menjadi merah yang legam. Hanya menimbulkan bunyi gemeretak yang terdengar malu-malu.
‘’Seperti apa bunyi bara yang malu-malu itu?’’ tanyamu.
‘’Seperti deru di langit, seperti pusaran gelombang. Tak gemuruh tetapi menimbulkan riuh,’’ sahutku.
‘’Langit seperti apa? Gelombang seperti apa? Aku sudah lupa,’’ sahutmu.
‘’Kalau begitu coba mainkan sebuah sonata lagi. Bunyinya pasti seperti langit, seperti gelombang, seperti arang...’’
Aku melihatmu seperti seorang Eygency Kissin yang memainkan melodi Konserto Piano nomer satu milik Tchaikovsky di sebuah gedung konser. Melodi yang sebentar keras menghentak, sebentar lembut seakan membuatku tergelincir. Sebuah komposisi yang mengikat emosi. Tentang cinta dan rindu yang terus menerus yang tak pernah putus. Perasaan yang sudah lumat tergerus.
Kau memainkan nada tanpa perlu memandang tuts mana yang harus kautekan. Bila memainkan piano, kau memang tidak terlalu memerlukan mata. Kau memukulnya dengan ringan tetapi mempunyai kekuatan. Membuatku teringat ilmu taichi yang mengumpulkan kekuatan dengan gerakan yang lemah lembut.
Dan jari-jarimu melompat dan berjingkat begitu cepat seperti bayangan. Dari satu balok hitam ke balok putih lalu ke balok hitam lainnya yang berjajar. Kau memang lebih mempergunakan perasaan ketika memutuskan untuk mendaratkan jarimu di balok yang mana. Seakan seluruh simpul syarafmu sudah bekerja otomatis sehingga tidak perlu memerlukan mata lagi.
Karena itu aku lega. Itu berarti kau juga tidak perlu mempergunakan matamu untuk menyaksikanku. Pakai saja perasaanmu untuk menyaksikanku seperti aku tidak perlu memakai telingaku untuk mendengarmu. Cukup dengan perasaanku saja.
‘’Apa yang kaudengarkan?’’ tanyamu seakan-akan aku memang bisa mendengarkanmu. Padahal aku cuma bisa menyaksikanmu.
‘’Aku mendengar bunyi rindu seperti sauh. Jauh yang ingin dekat. Dekat yang tak ingin menjauh,’’ sahutku seakan-akan aku memang mendengarkanmu.
Padahal aku cuma merasakan getaranmu.
‘’Rindu apa? Kepada siapa?’’ kamu mendesak.
‘’Rindu suara. Kepada cinta,’’ aku terdesak.
‘’Suara apa? Cinta siapa? Jangan-jangan sama...,’’ bibirmu gemetar seperti hatiku.
‘’Iya. Sama...’’
‘’Di antara kita?’’
‘’Jadi?’’ aku terlalu malu untuk menjawab pertanyaanmu.
‘’Jangan ke mana-mana. Jangan ada siapa-siapa. Jangan ada apa-apa. Hanya kita di sini, diam saja, mendengar suara cinta...’’
Aku setuju padamu.
Bukankah di dalam cinta, kebungkaman lebih berarti daripada percakapan?
Fa
Cinta terasa baru benar-benar membakar ketika pesan kaudengar: padamkan nyalanya! 6)
‘’Padamkan nyalanya! Padamkan nyalanya!’’
Itu suara terakhir yang ditangkap gendang telingaku. Karena setelah itu yang bisa kudengar hanyalah senyap yang merayap. Tidak pelan-pelan. Tetapi langsung menguasai seluruh alam semesta. Tidak ada suara angin berciuman dengan dedaunan, tidak ada suara air yang menyentuh bebatuan, tidak ada suara awan yang berpelukan dengan hujan, tidak ada suara kemarahan, tidak ada suara tangisan, tidak ada suara kerinduan. Aku menjadi sang sepi yang sendirian. Menjadi maharaja sunyi.
Kulihat kau masih menyimakku. Maka kuteruskan ceritaku.
Kembang api itu meledak begitu dekat denganku. Bukan cuma seperti petasan anak-anak. Tetapi bunga api raksasa yang seharusnya menyemarakkan malam dengan terangnya itu tersulut sebelum saatnya. Dan ia seperti dinamit meletus.
BUMMM!!! Membakarku...
Dan kemeriahan yang seharusnya penuh suka cita itu menjadi kalang kabut dengan kepedihan. Telingaku tidak bisa mendengar apa-apa lagi kecuali kepiluan yang menyayat. Gendang telingaku sudah meletup, pekak, tuli. Wajahku seperti mentega meleleh di atas wajan. Kulitnya melepuh tidak cantik lagi.
Tahukah kau bagaimana rasanya terbakar?
Rasanya begitu sepi...
Bisakah kau memadamkannya?
Sol
Maka aku tidak perlu kau bisa menyaksikanku. Aku tidak perlu matamu untuk memandangku. Tak mengapa kau buta seperti Kemala. Bukankah cinta memang buta? Cinta tidak perlu mata. Cukup telinga untuk mendengarkan apa kata suara. Suara cinta. Kata-kata cerita yang kusampaikan padamu untuk menjadi nada.
Aku juga tidak perlu telinga. Bukankah cinta juga tuli? Cinta juga tidak perlu telinga untuk mendengarkan terlalu banyak kata-kata. Cukup hati yang bicara. Bicara cinta. Seperti nada-nada yang kaumainkan untukku.
Jadilah kita sepasang kekasih yang diam-diam saja di sini. Seperti penulis tuli yang jatuh cinta kepada pianis buta. Memang tidak perlu ke mana-mana, bukan? Bukankah kau selalu mendengarkanku seperti aku setia menyaksikanmu?
‘’Sekarang ceritakan tentang mataku,’’ katamu sambil menoleh padaku.
Kau memandangku dengan mata tanpa warna. Kulihat ada selaput tipis di sana seperti gerhana yang tidak purnama, tetapi memancarkan cinta yang sempurna.
Kau berdiri meninggalkan pianomu. Aku menyaksikanmu menghampiriku. Tapi kau tidak tersaruk, menubruk sesuatu karena kau mendengar suaraku. Suara hatiku. Suara cintaku yang memanggilmu.
La
‘’Matamu adalah mata yang indah,’’ 7) aku memulai ceritaku.
Kuceritakan padamu bahwa matamu bukanlah mata Kemala yang terberangus karena cintanya kepada Sidharta. Bukan mata yang harus dibutakan agar tidak bisa memancarkan kerinduan lagi.
Tetapi matamu adalah mata lelaki yang memanah matahari.
Dahulu, bumi disinari oleh dua matahari. Karena itu tidak pernah ada malam hari. Kedua matahari itu bergantian berotasi dan berevolusi dengan lidah api yang memijar dan panas yang menjalar.
Dan kau lelaki dari dunia lain yang memiliki hati dari kerumunan embun beku. Kau ingin hatimu mencair dari dingin itu. Ternyata bara arang tak cukup panas untuk mencairkan. Maka kaubidikkan busurmu ke arah matahari yang satu. Menurutmu, panas itu pasti bisa melelehkan gigil yang membatu.
Yap! Bidikanmu tepat mengenai jantung matahari. Ia meledak jatuh menghujanimu dengan pijar-pijarnya. Ada letupan yang jatuh di matamu. Sangat menyilaukan sampai kau tidak mampu melihat yang lain kecuali kemilau. Letupan lain menembus hatimu. Meluluhkan. Maka beku di hatimu menjadi banjir. Membanjir sampai ke hatiku juga. Lalu aku hanyut mengalir di banjirmu.
Si
‘’Ceritamu semerdu lagu,’’ kata gerak bibirmu.
‘’Begitukah? Apakah tidak pilu?’’
‘’Tidak ada cinta yang pilu. Cinta selalu merdu.’’
‘’Tetapi aku selalu kehabisan kata-kata ketika bercerita untukmu. Rasanya kata-kata pendek tidak pernah cukup dan kata-kata panjang selalu kurang. Terkadang kupikir mungkin memang sebaiknya kita disinari dua matahari sehingga tidak pernah ada malam. Jadi kita bisa terus bersama sepanjang siang.’’
Bibirmu bergerak membentuk garis tawa yang menawan. Aku bahagia kau tertawa mendengar kata-kataku. Aku gembira bila bisa membuatmu gembira. ‘’Kau pasti pencerita yang jelita. Aku ingin menyaksikanmu,’’ katamu sambil mengulurkan jemari kepadaku.
Ini yang kutakutkan!
Sebagaimana kukatakan, seharusnya kau cukup mendengarkan ceritaku. Apakah kau akan tetap mengatakan aku jelita bila kau bisa meraba parut di seluruh wajahku? Mataku yang besar sebelah, hidung yang miring seperti plastik meleleh terkena panas, bibir yang tidak rata, tubuh tidak sempurna dengan kerut-kerut kulit melepuh, dan aku tidak bertelinga! Apakah kau masih akan cinta padaku?
Oh, kau membuatku ingin menangis! Aku takut rindu itu akan menjauh. Aku takut kehilanganmu!
Do
‘’Biarkan aku membacamu, tidak sekadar mendengarkanmu,’’ bibirmu bergerak. Jemarimu juga bergerak untuk menyentuhku, merabaku, membacaku seperti pada huruf-huruf braile.
Aku tahu, ketika kau menyentuhku, kau pasti sudah menyaksikanku. Dan ketakutanku menjadi maha besar. Aku takut kau berhasil membacaku. Lalu kau tahu bahwa aku cuma sebuah cerita usang yang tak menarik. Aku cuma sebuah buku kumal, lecek, berdebu dan sudah sobek-sobek. Kau pasti malas untuk membacaku sampai halaman terakhir. Mungkin hanya sampai pada halaman-halaman pertama, lalu kau akan menghentikan dan menggeletakkannya.
Kupejamkan mataku untuk mengatasi rasa takutku. Saat ini aku juga ingin menjadi buta sepertimu. Aku tidak berani bisa menyaksikan selaput gerhana di matamu menjadi terbelalak bila kau sudah berhasil membacaku.
Aku tidak siap bila harus kehilanganmu.
Kurasakan jemarimu menelusuriku seperti Fanton Drummond 8) membaca peta di tubuh Olenka. Berhenti sejenak lalu bergerak lagi. Kau meneruskan perjalananmu seakan sedang berjalan di atas lekuk ceruk bukit ngarai, lembah dan rel kereta api 9) seperti si buta yang berjalan sendiri tanpa tongkat dan tanpa penuntun. Jadi kau berjalan di atasku dengan pelan dan sangat hati-hati.
Kemudian kau jadikan aku seperti sebuah piano. Kau telentangkan aku. Lalu jemarimu menekanku, berjingkat di atasku, melompat dari ujung ke ujung. Kau mainkan lagu di atas rambutku, keningku, mataku, bibirku, dadaku, sampai kakiku. Kau membuatku menukik ke tangga nada tertinggi dan meluncur ke tangga nada terendah. Gemetarku karena nada-nadamu yang kejar-mengejar itu.
Do re mi fa sol la si do
Ketika kau selesai membacaku, rasanya, aku mendengar desah yang menjadi sonata paling indah. (35)
Catatan:
1) Kalimat pada puisi Sonet 1 Sapardi Djoko Damono
2) Kasta terendah di India
3) Bunyi instrumen yang terdiri dari 3-4 bagian yang kontras dari bagian ke bagian.
4) Kalimat pada puisi Sonet 3 Sapardi Djoko Damono
5) Kalimat pada puisi Sonet 4 Sapardi Djoko Damono
6) Kalimat pada puisi Sonet 4 Sapardi Djoko Damono
7) Judul cerpen Budi Darma
8) Tokoh dalam novel Olenka Budi Darma
9) Kalimat dalam novel Olenka Budi Darma

(Cerpen ini merupakan salah satu dari 20 Cerpen Terbaik Indonesia 2009, Anugerah Sastra Pena Kencana)

Suap

Cerpen Putu Wijaya

Seorang tamu datang ke rumah saya. Tanpa mengenalkan dirinya, dia menyatakan keinginannya untuk menyuap. Dia minta agar di dalam lomba lukis internasional, peserta yang mewakili daerahnya dimenangkan.
“Seniman yang mewakili kawasan kami itu sangat berbakat.” katanya memujikan, “Keluarganya memang turun-temurun adalah pelukis kebanggaan wilayah kami. Kakeknya dulu adalah pelukis kerajaan yang melukis semua anggota keluarga raja. Sekarang dia bekerja sebagai opas di kantor Gubernuran, tetapi pekerjaan utamanya adalah melukis. Kalau dia menang, seluruh dunia akan menolehkan matanya ke tempat kami yang sedang mengalami musibah kelaparan dan kemiskinan, karena pusat lebih sibuk mengurus soal-soal politik daripada soal-soal kesejahteraan. Dua juta orang yang terancam kebutaan, tbc, mati muda, akan terselamatkan. Saya harap Anda sebagai manusia yang masih memiliki rasa belas kasihan kepada sesama, memahami amanat ini. Ini adalah perjuangan hak azasi yang suci.”
Saya langsung pasang kuda-kuda.
“Maaf, tidak bisa. Tidak mungkin sama sekali. Juri tidak akan menjatuhkan pilihan berdasarkan kemanusiaan, tetapi berdasarkan apakah sebuah karya seni itu bagus atau tidak.”
“Tapi bukankah karya yang bagus itu adalah karya yang membela kemanusiaan dan bermanfaat bagi manusia?”
“Betul. Tapi meskipun membela kemanusiaan, tetapi kalau tidak dipersembahkan dengan bagus, atau ada yang lebih bagus, di dalam sebuah kompetisi yang adil, yang kurang bagus tetap tidak akan bisa menang.”
Orang yang mau menyuap itu tersenyum.
“Bapak mengatakan itu, sebab kami tidak menjanjikan apa-apa?”
“Sama sekali tidak!”
“Ya!”
Lalu dia mengulurkan sebuah cek kosong yang sudah ditanda-tangani. Saya langsung merasa tertantang dan terhina. Tetapi entah kenapa saya diam saja. Kilatan cek itu membuat darah saya beku.
“Kalau wakil kami menang, Bapak boleh menuliskan angka berapa pun di atas cek kontan ini dan langsung menguangkannya kapan saja di bank yang terpercaya ini.”
Saya bergetar. Itu sebuah tawaran yang membuat syok.
“Kalau ragu-ragu silakan menelpon ke bank bersangkutan, tanyakan apakah ada dana di belakang rekening ini, kalau Anda masih was-was. Kami mengerti kalau Anda tidak percaya kepada kami. Zaman sekarang memang banyak penipuan bank”
Saya memang tidak percaya. Tapi saya tidak ingin memperlihatkannya.
“Anda tidak percaya kepada kami?”
“Bukan begitu.”
“Jadi bagaimana? Apa Anda lebih suka kami datang dengan uang tunai? Boleh. Begitu? Berapa yang Anda mau?”
Saya tak menjawab.
“Satu milyar? Dua milyar? Lima milyar?”
Saya terkejut. Bangsat. Dia seperti sudah menebak pikiran saya.
“Kita transparan saja.”
Saya gelagapan. Apalagi kemudian dia mengeluarkan sebuah amplop. Nampak besar dan padat.
“Kami tidak siap dengan uang tunai sebanyak itu. Tapi kebetulan kami membawa sejumlah uang kecil yang akan kami pakai sebagai uang muka pembelian mobil. Silakan ambil ini sebagai tanda jadi, untuk menunjukkan bahwa kami serius memperjuangkan kemanusiaan.”
Dia mengulurkan uang itu. Kalau pada waktu itu ada wartawan yang menjepret, saya sudah pasti akan diseret oleh KPK, lalu diberi seragam koruptor. Saya tak berani bergerak, walau pun perasaan ingin tahu saya menggebu-gebu, berapa kira-kira uang di dalam amplop itu.
“Silakan.”
Tiba-tiba saya batuk. Itu reaksi yang paling gampang kalau sedang kebingungan. Tetapi batuk saya yang tak sengaja itu sudah berarti lain pada tamu itu. Dia merasa itu sebagai semacam penolakan. Dia merogoh lagi tasnya, lalu mengeluarkan sebuah amplop yang lain.
“Maaf, bukan saya tidak menghargai Anda, tapi kami memang tidak biasa membawa uang tunai. Kalau ini kurang, sore ini juga kami akan datang lagi. Asal saya mendapat satu tanda tangan saja sebagai bukti untuk saya laporkan. Atau Anda lebih suka menelpon, saya hubungkan sekarang.”
Cepat sekali dia mengeluarkan HP dan menekan nomor-nomor sebelum saya sempat mencegah.
“Hallo, hallo …… .”
Saya memberi isyarat untuk menolak. Tapi orang itu terlalu sibuk, mungkin sengaja tidak mau memberi saya kesempatan. Waktu itu anak saya yang baru berusia 4 tahun berlari dari dalam. Dia memeluk saya. Saya cepat menangkapnya. Tapi sebelum tertangkap, anak itu mengubah tujuannya. Dia mengelak dan kemudian mengambil kedua amplop yang menggeletak di atas meja.
“Ade, jangan!”
Tapi amplop itu sudah dilarikan keluar.
“Adeee jangan!”
Saya bangkit lalu mengejar anak saya yang ngibrit ke halaman membawa umpan sogokan itu.. Merasa dikejar anak saya berlari. menyelamatkan diri.
“Ade jangan!”
Anak saya terus kabur melewati rumah tetangga. Para tetangga ketawa melihat saya berkejar-kejaran dengan anak. Mereka mungkin menyangka itu permaianan biasa.
“Ade jangan itu punya Oom!”
Terlambat. Anak saya melemparkan kedua amplop itu ke dalam kolam. Kedua-duanya. Ketika saya tangkap, dia diam saja. Matanya melotot menentang mata saya. Seakan-akan dia marah, karena bapaknya sudah mengkhianati hati nurani. Padahal saya sama sekali tidak bermaksud menerima suapan itu. Saya hanya memerlukan waktu dalam menolak. Saya kan belum berpengalaman disuap. Apalagi menolak suap. Itu memerlukan keberanian mental. Baik menerima mau pun menolaknya.
Kedua amplop itu langsung tenggelam. Sudah jelas sekali bagaimana beratnya. Perasaan saya rontok. Dengan menghilangkan akal sehat saya lepaskan anak saya, lalu terjun ke kolam. Dengan kalap saya gapai-gapai. Tapi kedua amplop itu itu tak terjamah.
Pata tetangga muncul dan bertanya-tanya. Heran melihat saya yang biasa jijik pada kolam yang sering dipakai tempat buang hajat besar itu, sekarang justru menjadi tempat saya berenang. Bukan hanya berenang, saya juga menyelam untuk menggapai-gapai. Tidak peduli ada bangkai ayam dan kotoran manusia, mplop itu harus ditemukan.
Dengan berapi-api saya terus mencari. Kalau kedua amplop itu lenyap, berarti saya sudah makan suap. Hampir setengah jam saya menggapai-gapai menyelusuri setiap lekuk dasar kolam.Tak seorang pun yang menolong. Semua hanya memperhatikan kelakuan saya. Saya juga tidak bisa menjelaskan, bahaya. Hari gini, siapa yang tidak perlu uang?
Ketika istri saya muncul dan berteriak memanggil baru saya berhenti.
“Bang! Tamunya mau pulang!”
Cemas, gemas dan kecewa saya keluar dari kolam. Badan saya penuh lumpur. Di kepala saya ada tahi. Orang-orang melihat kepada saya dengan jiiiiiiiigik bercampur geli. Istri saya bengong. Tapi saya tidak peduli. Anak saya hanya ketawa melihat bapaknya begitu konyol.
“Eling Dik, eling,” kata seorang tetangga tua sebab menyangka saya kemasukan setan.
“Abang kenapa sih?” tanya istri saya galak dan penuh malu.
Saya tidak berani menjawab terus-terang. Kalau saya katakan anak saya melemparkan dua amplop uang, semuanya akan terjun seperti saya tadi untuk mencari. Ya kalau dikembalikan. Kalau tidak? Mereka yang akan kaya dan saya yang masuk penjara.
Untuk menghindarkan kemalangan yang lain, saya hanya menggeleng.
Diinjak pikiran kacau saya pulang. Tapi tamu itu sudah kabur. Tak ada bekasnya sama sekali. Seakan-akan ia memang tidak pernah datang. Sampai sekarang pun ia tidak pernah muncul lagi.
Saya termenung. Apa pun yang saya lakukan sekarang, saya sudah basah. Tak menolak dengan tegas, berarti saya sudah menerima. Ketidakmampuan saya untuk tidak segera menolak, karena kurang pengalaman, tak akan dipercaya. Siapa yang akan peduli. Masyarakat sedang senang-senangnya melihat pemakan suap digebuk. Kalau bisa mereka mau langsung ditembak mati tanpa diadili lagi.
Dan kenapa saya terlalu lama bego. Melongo adalah pertanda bahwa saya diam-diam punya keinginan menerima. Aduh malunya. Tapi coba, siapa yang tidak ingin ketimpa rezeki nomplok. Orang kecil memang selalu tidak beruntung. Sedekah ikhlas pun sering difitnah sebagai suap. Seakan-akan orang kecil memang paling tidak mampu melawan naswibnya. Sementara pada orang gedean sudah jelas sogokan masih diposisikan semacam tanda kasih.
“Sudah jangan kayak orang bego, cepetan madi dulu, bau!” bentak istri saya.
Saya terpaksa cepat-cepat masuk ke kamar mandi. Setelah telanjang dan mengguyur badan, baru saya sadari betapa kotor dan busuknya saya. Berkali-kali saya keramas dan membarut tubuh dengan sabun, tapi bau kotoran itu seperti sudah masuk ke dalam daging.
“Cepat mandinya, bungkusannya sudah ketemu!” teriak istri saya sambil menggendor pintu.
Darah saya tersirap. Hanya dengan menyelempangkan handuk menutupi aurat, saya keluar.
“Mana?”
Seorang anak tetangga, teman main anak saya mengacungkan kedua amplop itu. Badannya kuyup penuh kotoran. Rupanya dia nekat terjun meneruskan misi saya yang gagal karena dia tidak rela Ade saya strap.
“Terimakasih!” kata saya menyambut kedua amplop itu, sambil kemudian memberikan uang untuk persen.
“Limapuluh ribu?” teriak istri saya memprotes.
Lalu ia mengganti uang itu dan menggantikannya dengan tiga lembar uang ribuan.
“Masak ngasih anak limapuluh ribu, yang bener aja!”
“Tapi .. .”
“Ah sudah! Tidak mendidik!”
Saya tidak berdebat lagi, karena anak itu sudah cukup senang dengan tiga ribu. Lalu ia melonjak dan berlari keluar seperti kapal terbang, langsung ke warung. Pasti membeli makanan chiki-chiki sampah yang membuat usus bolong..
Kedua amplop uang itu saya bawa ke kamar mandi. Dengan hati-hati saya bersihkan tanah dan kotorannya. Untung amplopnya kuat terbuat dari semacam kertas plastik jadi tahan air. Uang tidak akan turun harganya hanya karena belepotan kotoran.
“Apa itu?” sodok istri saya ingin tahu.
Saya cepat-cepat menghindar sambil menyembunyikan amplop itu dalam handuk. Kalau dia tahu itu uang, ide-ide busuknya akan muncul. Kalau itu dibiarkan berkembang, akhirnya saya akan masuk penjara. Saya tidak percaya bahwa hanya wanita yang lemah pada uang. Laki-laki sama saja. Tetapi saya kenal betul dengan ibu si Ade. Dia sudah terlalu capek hidup dalam kampung kumuh. Sudah lama dia menginginkan masa depan yang lebih baik terutama setelah Ade lahir, yang belum mampu bahkan mungkin tak akan bisa saya berikan. Baginya pasti tidak ada masalah suaminya masuk penjara, asal masa depan anaknya cerah.
Saya naik ke atap rumah untuk menjemur amplop itu supaya benar-benar kering. Saya tunggu di sana dengan menahan panas matahari, takut kalau ada tangan jahil mengambilnya. Keputusan sudah diambil, saya tidak akan menerimanya. Saya akan mengembalikan, kalau orang itu datang lagi. Dia pasti sengaja pergi untuk menjebloskan saya terpaksa menerima. Tidak, saya tidak pernah mimpi akan menjadi pelaku suap.
Tapi sepuluh hari berlalu. Orang itu tidak muncul-muncul juga. Lomba pun memasuki saat penentuan. Melalui perdebatan yang sangat sengit, akhirnya dicapai kata sepakat. Dengan sangat mengejutkan pemenangnya adalah calon yang dimintakan dukungan oleh penyuap daerah itu.
Terus-terang saya termasuk yang ikut memberikan suara pada kemenangan tersebut. Bukan karena suap. Jagoan daerah itu memang berhak mendapatkannya. Bahkan juara kedua apalagi ketiga masih jauh di bawahnya. Kemenangan itu dinilai wajar oleh semua orang. Diterima baik oleh masyarakat. Sama sekali tidak ada suara-suara kontra.
Satu bulan berlalu. Lomba itu sudah menjadi lampau. Saya pun memperoleh jarak yang cukup untuk menyiapkan perasaan menghadapi kedua amplop itu. Meski sudah saya sembunyikan dengan begitu rapih, tapi kalau lagi sepi, kadang-kadang amplop itu saya bawa ke tempat sunyi di depan rumah dan timang-timang. Rasanya aneh, kunci untuk mengubah masa depan ada di tangan, tapi saya cukup hanya memandangi. Kemiskinan terasa tidak begitu menggasak lagi, didekat senjata yang bisa membalikkan semuanya setiap saat. Mau tak mau saya terpaksa mengakui, betapa dahsyatnya arti uang. Suka tidak suka ternyata harus diakui memang uang mampu menenteramkan. Namun saya sudah bersikap menolak.
Sayang sekali roda kehidupan yang membenam saya di bawah terus, akhirnya mulai menang. Memasuki bulan kedua, ketika pemilik amplop itu tidak muncul-muncul juga, pikiran saya bergeser. Suap adalah dorongan yang membuat kita terpaksa melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hati nurani dan merugikan orang banyak. Saya tidak melakukan itu. Orang juga tidak memprotes keputusan yang diambil juri. Apa perlu saya cek, adakah semua juri juga sudah disodori amplop seperti saya? Saya kira itu berlebihan. Keputusan kami yang diterima baik, adalah bukti bahwa kemenangan itu tepat. Orang tidak berhak menuduh saya atau kami disuap hanya karena kebetulan kemenangannya sama dengan yang dikehendaki penyuap itu. Maksud saya orang yang mencoba menyuap itu.
Pada bulan ketiga, saya capek menunggu. Lelah juga dipermainkan oleh ketegangan. Kenapa saya mesti menolak nasib baik yang sudah di tangan. Istri saya sudah tidak mau lagi tidur dengan saya. Anak saya kontet karena gizinya kurang. Utang di warung sudah tak terbayar sehingga lewat saja sudah rasa dihimpit oleh hina dan malu.
Akhirnya setelah berdoa berkali-kali dan meminta ampun kepada Tuhan, saya memutuskan nekat. Apa boleh buat biarlah saya masuk penjara kalau saya memang terbukti nanti makan suap. Tapi sedikitnya saya sudah sudah bisa membahagiakan keluarga dengan memperbaiki rumah dan membeli motor seperti tetangga saya. Kenapa orang lain boleh bahagia dan saya hanya kelelap kemiskinan karena membela kesucian. Jauh lebih baik makan suap meskipun dihukum, daripada dihukum sebab kena suap tanpa sempat tanpa selembat pun menikmati manis suapnya.
“Baiklah, hari ini kita memasuki sesuatu yang baru.”kata saya pada anak-istri malam itu sambil menunjukkan kedua amplop uang itu, “aku sudah mengambil keputusan bahwa ini adalah hak kita, karena sudah 3 bulan 10 hari pemiliknya tidak kembali. Bukan salah kita. Masak hanya tetangga yang berhak betulin rumah dan beli motor, kita sendiri makan tahi sampai mati. Ini!”
Saya terimakan kedua amplop itu ke tangan istri saya. Istri saya diam saja. Anak saya nampak menahan diri. Dia tidak berani menyambar lagi seperti dulu.
“Ayo dibuka saja!”
Istri saya tiba-tiba menunduk dan menangis.
“Lho kok malah nangis.”
“Abang jangan salah sangka begitu.”
“Salah sangka bagaimana?”
“Jangan menyangka yang tidak-tidak.”
“Yang tidak-tidak apa?”
“Aku tidak capek karena kita miskin, tapi karena aku sakit. Aku juga sudah mulai tua sekarang, Bang. Aku diam karena tidak mau memberati perasaan Abang. Bukan apa-apa. Aku tidak mau Abang memaksa diri menerima suap hanya untuk menyenangkan hatiku. Jangan. Aku masih kuat menderita kok. Masih banyak orang lain yang lebih jelek nasibnya dari kita.”
Dia berdiri dan meletakkan kedua amplop itu di depan saya.
“Jangan memaksakan sesuatu yang tidak baik, nanti tidak akan pernah baik.”
Dia menggayut tangan Ade, lalu membawanya ke dapur. Anak saya menurut tapi dia melirik kepada saya lalu menatap ke kedua amplop itu. Kemudian diam-diam menunjuk dengan telunjuknya.
Saya menghela nafas dalam. Disikapi oleh istri seperti itu, kenekatan saya justru bertambah. Memang anak dan istri saya tidak usah ikut bertanggungjawab. Biar saya sendiri nanti yang masuk neraka, asal mereka tidak. Dari jendela saya lihat perbaikan rumah tetangga menjadi dua lantai sudah hampir rampung. Suara motornya kedengaran yang nyaring melengking menusuk malam, membuat saya panas.
Tiba-tiba terpikir sesuatu. Kenapa anak saya tadi menunjuk ke amplop. Apa maksudnya? Apa itu sebuah peringatan? Saya menatap amplop yang menjadi bersih karena sering saya belai itu. Tiba-tiba saya terperanjat. Di satu sisinya ternyata ada belahan. Dari situ nampak terbayang isinya.
Tangan saya gemetar. Saya sambar amplop itu dan intip isinya. Kemudian dengan bernafsu, barang yang sempay saya berhalakan itu saya kupas. Darah saya seperti muncrat keluar semua ketika menemukan di dalamnya bukan uang tetapi hanya tumpukan kertas-kertas putih.
Dengan kalap saya terkam bungkusan kedua dan preteli. Sama saja. Isinya juga hanya kertas. Di situ mata saya mulai gelap. Ini pasti perbuatan tetangga jahanam itu. Dia temukan amplop itu, lalu gantikan isinya, baru dia suruh anaknya supaya menyerahkan kepada saya. Bangsat. Kalau tidak begitu, bagaimana mungkin dia bisa meningkatduakan rumahnya dan membeli motor? Saya S2 dia SMP saja tidak tamat.
Dengan gelap jelalatan karena geram saya keluar rumah. Jelas sekali sekarang. Mungkin ketika anak saya lari-lari berkejar-kejatan dengan Ade, kedua amplop itu sudah direbut oleh tetangga. Setelah tahu isinya, mereka langsung ganti. Dan ketika saya mencebur ke dalam kolam mereka punya kesempatan untuk memeriksa isinya dan mengganti. Itu kejahatan. Manusia sekarang sudah rusak moralnya karena uang. Tidak ada lagi perasaan persaudaraan, menjarah, merampok uang orang lain sudah jadi semacam kiat dan keberanian.
Dengan kalap saya sambar batu-batu. Tak peduli apa kata orang, lalu saya lempari rumah tetangga bajingan itu. Kaca-kaca pintu yang baru dipasang saya hancutkan. Motornya juga saya hajar.
“Bangsat! Aku yang disuap! Aku yang dijebloskan ke bui dan neraka, kamu yang enak-enak menikmati! Bajingan!”
Hampir saja rumah barunya saya bakar, kalau saja para tetangga tidak keburu menyerbu dan kemudian menghajar saya habis. Mata saya bengkak, tak mampu melihat apa-apa. Hanya telinga saya masih bisa menangkap isak tangis istri dan jerit histeris anak saya.

(Cerpen ini adalah salah satu dari 20 Cerpen Terbaik Indonesia 2009, Anugerah Sastra Pena Kencana)

Terbang

Cerpen Ayu Utami

Untuk Bona dan Weni
Aku yang ngotot agar kami terbang terpisah. Kubatalkan satu tiket yang telah dipesan suamiku. Tiket murah pula, sehingga aku harus membayar besar untuk perubahan jadwal. Tapi, biar saja. Aku merasa lebih aman begini. Terbang terpisah darinya.
Kamu terlalu dramatis, Ari. Katanya.
………Tidak. Aku ini sangat realistis, Jati. Bantahku.
Sejak dua anak kami sudah bisa tidak ikut dalam perjalanan, sejak kami telah bisa meninggalkan mereka di rumah, aku memutuskan untuk tak akan terbang bersama suami dalam satu pesawat lagi. Atau terbang pada waktu bersamaan. Salah satu di antara kami harus terbang lebih dulu. Setelah pesawatnya dipastikan mendarat dengan selamat, barulah yang lain boleh berangkat. Ini keputusanku yang harus dilaksanakan. Jika suamiku menelikung tidak menurut—seperti kemarin ia mengurus tiket kami—ia akan tahu rasa. Aku membatalkan tiketku dan memesan sendiri.
Statistik mengatakan, moda transportasi pembunuh paling besar adalah lalu lintas darat. Begitu katanya. Kecelakaan maut motor lebih banyak daripada kecelakaan pesawat. Itu statistik.
Statistik juga bilang, kalau kepalamu ditaruh di kompor dan kakimu dibekukan di freezer, suhu tubuh di perutmu normal. Bantahku. Bagaimana kita mau mengabaikan fakta: Adam Air terbang tanpa alat navigasi. Adam Air jeblug di laut. Mandala jatuh waktu lepas landas. Garuda meledak ketika mendarat. Semua terjadi dalam satu tahun!
Lagian, meski persentase lebih kecil pun, kalau kita kena lotre buruk, meledak ya meledak, nyemplung ke laut ya nyemplung ke laut. Itu namanya sial, kalau bukan takdir. Karena itulah, daripada dua-dua dari kita kena takdir, lebih baik salah satu saja. Paling tidak, dengan begitu anak kita tidak jadi yatim piatu.
Tak ada lagi cerita terbang bersama atau bersamaan.
Titik.
Aku mengunci gesper sabuk pengaman. Mesin pesawat propeler sudah menyala. Derunya seperti makhluk hidup terkena bronkitis, penyakit yang sudah lama tidak disebut-sebut di negeri ini. Kini orang lebih mengenal infeksi saluran pernapasan atas alias ISPA. Kira-kira begitu aku merasa derau mesin baling-baling ini. Setiap saat bisa batuk darah. Lalu kolaps. Aku memandang ke bandara yang kecil, yang lebih pantas disebut rumah besar ketimbang pelabuhan. Suamiku tampak di sana, berdiri kacak pinggang, menunggu saat melambai hingga pesawat lenyap di udara, di atas gunung-gunung yang berkeliling.
Aku menelan ludah. Terbang adalah menyetorkan nyawa kepada perusahaan angkutan umum. Kita bisa mengambilnya kembali. Bisa juga tidak. Dan tak ada rente. Kalau untung, hanya ada tiba dengan selamat.
Aku sesungguhnya sangat takut. Penyiksaan akan berlangsung tujuh jam, termasuk transit dan ganti pesawat. Tapi selalu ada cara untuk survive. Kusetorkan diriku yang cemas, yang bertanggung jawab, yang berkeringat dingin membayangkan anak-anakku kehilangan ibu yang menghangatkan mereka dalam sayap-sayapku, yang menitikkan air mata atas jerih payah suami bagi kami. Kusetorkan diriku yang itu bersama jiwaku ke kotak hitam di kokpit. Jati, kalau ada apa-apa denganku, aku yang kamu miliki ada di kotak hitam itu, ya.
Yang duduk di kursi sekarang adalah aku yang lain. Aku yang kuat untuk menghadapi kengerian. Yaitu, aku yang tak bertanggung jawab. Aku yang tak memiliki suami ataupun anak-anak. Aku yang lajang petualang.
Dan lihatlah. Seorang lelaki tergesa-tergesa melewati pramugari yang cemberut karena ia membuat penerbangan telat jadwal. Ia meletakkan bagasi ke dalam kabin di atas kepalaku. Ia mengangguk kepadaku sebelum duduk di kursi sebelahku. Terhidu bau tubuhnya. Bau hangat manusia. Aku membalas ringan dia, lalu mengalihkan pandangan ke jendela. Pesawat mulai ber- gerak. Jati melambai di bawah sana. Aku membalas. Selamat tinggal!
Kira-kira dia adalah seorang peneliti. Seorang peneliti lapangan. Seorang peneliti yang biasa di alam bebas. Di hutan. Bukan di lab. Di goa. Di padang rumput berpasir. Ia mengenakan kaca mata. Perawakannya keras. Otot kedang tangannya tegas. Urat- urat pada lengannya mencuat. Itulah yang dapat terlihat jika aku tak mau jelas-jelas menoleh kepadanya. Pada ransel yang diletakkan di bawah kursi depan, tersangkut botol minum aluminium SIGG. Dengan stiker “kurangi plastik”. Ia mengenakan sepatu gunung Eiger.
Ataukah dia orang film. Film dokumenter lingkungan. Ah, aku tak bisa melihat lipatan perutnya, meskipun ia mengenakan T-shirt kelabu yang dimasukkan di balik kemeja korduroi hitam yang terbuka. Ia pasti memiliki six-pac yang lumayan. Dari kulit jemarinya, kira-kira ia empat puluhan.
Sebetulnya, sudah lama aku tak ingin ngobrol dengan orang seperjalanan. Sia-sia. Lebih baik baca buku daripada menghabiskan waktu dengan makhluk yang tak memberi kita pengetahuan dan tak akan kita ingat lagi. Setidaknya, buku menambah isi kepala. Manusia sering-sering cuma menghabiskan urat kepala.
Kukeluarkan buku. Kuletakkan di pangkuan, sebab aku sulit membaca ketika lepas landas dan lampu tanda kenakan sabuk belum mati. Java Man. Garniss Curtis, Carl Swisher & Roger Lewin. Aku ingin memejamkan mata dan berdoa, tapi kulihat lelaki di sebelahku bergerak. Gerakan mencontek judul buku, kutahu dengan sudut mataku. Ah, tebakanku takkan jauh. Ia orang lapangan, bergerak di sekitar soal lingkungan.
Aku menyadari pesawat ini tak punya lampu tanda kenakan sabuk pengaman. Sialan. Kuno amat. Setelah burung bronkitis ini terbang mendatar, aku menarik napas lega yang pertama, dan mulai membaca lagi. Kutangkap lagi dengan sudut mataku, ia bereaksi terhadap bacaanku. Ah! Kupergoki saja dia. Sambil bisa kuperhatikan sekalian, seperti apa mukanya.
Ia memiliki wajah lelaki baik. Lelaki baik adalah lelaki yang tidak tengil atau sesumbar, tidak sok tahu atau menggurui. Meski tidak berarti lelaki baik-baik. Lelaki baik-baik, yaitu yang setia kepada keluarga, bisa saja sa- ngat menyebalkan dan suka membual demi menegakkan citra kepala keluarga. Lelaki baik adalah lelaki yang menyenangkan untuk diajak ngobrol bersama, meski belum tentu baik untuk hidup bersama.
Nah! Ia tertangkap basah sedang mencontek!
Aku tersenyum padanya. Toh tadi juga kami sudah saling mengangguk.
“Sudah pernah baca?” tanyaku.
“Boleh lihat?”
Dan tentu saja kami jadi bercakap-cakap. Ia memang lelaki baik. Kebanyakan lelaki punya beban untuk tampak lebih tahu dari perempuan. Tapi dia tidak. Dia banyak bertanya tentang duniaku. (Kebanyakan lelaki lebih suka menjawab tentang diri sendiri. Jika kita tidak bertanya, mereka akan membikin pertanyaannya sendiri dan menjawab sendiri.) Dari cara bertanyanya, ia mirip wartawan dari koran atau majalah yang baik pula. Jadi, apa kerjanya?
“Macam-macam sudah saya coba,” katanya. “Saya pernah kerja di pertambangan. Saya pernah kerja di kapal.”
“Di kapal?”
“Di kapal, jadi juru masak, jadi fotografer….”
“Jadi juru masak?”
“Iya. Jadi juru masak di kapal. Jadi fotografer di kapal….”
Tak bisa tidak aku menyimak dia dari rambut ke sepatu, mencari jejak-jejak pekerjaan itu. Ia memiliki gestur yang rendah hati. Barangkali ia lebih pekerja badan ketimbang peneliti.
“Jadi penjahit juga pernah. Beternak ayam juga pernah. Mencoba kebun kelapa sawit kecil-kecilan pernah juga….”
Kini aku mencari-cari tanda jika ia berbohong. Atau sedikitnya bercanda. Tapi wajahnya tulus seperti hewan.
“Jadi, kenapa ayam-ayam negeri itu bisa bertelur tanpa dijantani? Ayam kampung tidak begitu, kan?” tanyaku, juga tulus, tapi juga mengetes.
Ia kelihatan senang dengan kata itu. Dijantani. “Sesungguhnya, buat saya itu juga misterius.”
Ia tidak memberi aku jawaban yang memuaskan. Tapi ia menceritakan rincian pengalaman yang membuat aku percaya bahwa ia tidak berbohong. Ia tidak mengaku-ngaku peternak ayam, berkebun kelapa sawit, juru masak, fotografer. Jadi, apa yang dikerjakannya di kepulauan Indonesia timur ini? Memotret perburuan ikan paus?
Tebakanku tidak terlalu meleset.
“Memotret. Tapi bukan ikan paus. Biar orang lain saja yang mengerjakan itu. Saya… tidaklah saya motret binatang dibunuh.”
Oh, berhati haluskan dia. “Jadi motret apa?”
“Saya,” ia berdehem, “saya mencari sebanyak-banyaknya orang pendek. Orang katai. Saya potret mereka. Pernah dengar tentang Manusia Liang Bua?”
“Untuk siapa? Untuk proyek sendiri?”
“Untuk satu majalah luar negeri.”
Lalu ia bercerita betapa sarjana asing senang mencari jejak manusia purba di Indonesia. Persis yang saya baca di buku ini, sahutku. Dan kami tenggelam sejenak dalam halaman-halaman dan referensi yang sempat diingat. Tangan kami tanpa sengaja bersentuhan ketika menelusuri spekulasi yang terdedah, lembar demi lembar. Dan pada lembar-lembar berikutnya aku tak tahu apakah persentuhan itu tetap tak sengaja.
Ia bercerita tentang dua spesies manusia pada sebuah zaman. Yang lebih purba dan yang lebih baru. Pada sebuah titik, yang lebih purba punah. Dialah manusia neanderthal, dengan ciri-ciri bertulang kepala lebih ceper dan tulang alis lebih menonjol. Tapi, sebelum mereka punah, dua spesies itu ada bercampur pula. Maka, keturunan manusia yang lebih purba masih kadang-kadang ditemukan di kehidupan sekarang. Ciri-cirinya, bertulang kepala lebih ceper dan tulang alis lebih menonjol. “Seperti saya, barangkali.” Ia nyengir lucu.
Aku memerhatikan dia. Ah, itukah yang membuat wajahnya tampak tulus seperti hewan?
Penerbangan berganti di Surabaya. Mendung menggantung.
“Sekarang semua fotografer pakai digital, ya?”
“Kalau dari segi kualitas, film tetap lebih sensitif. Tapi, dari segi kepraktisan, digital memang tak terkalahkan.”
“Saya tidak suka teknologi. Teknologi membuat yang tua tidak dihargai. Semua barang elektronik cepat jadi tua dan tak berguna. Tidak adil.”
Kenapa kukeluhkan ini? Adakah diriku yang cemas dan menyadari bahwa aku tak terlalu muda lagi untuk bergenit-genit dengan lelaki?
“Kenapa,” kataku agak grogi, mencari tema baru. “kenapa kamera digital semakin tahun semakin biru pucat gambarnya?” Tapi ini bukan tema baru. Ini tema yang sama. Tentang kecemasan menjadi tua.
“Itu jeleknya kamera digital. Setiap kamera digital memang hanya untuk memotret sejumlah kali tertentu. Setelah sekian kali, kemampuannya turun sama sekali. Biasanya, sekitar seratus ribu kali. Sebetulnya, itu tertulis di buku keterangan. Tapi tidak ada yang mau baca.”
“Jadi, setiap kamera digital lahir dengan kapasitas sekitar seratus ribu kali memotret?”
“Iya. Tertulis. Cuma orang enggak mau baca.”
“Ada yang bilang, setiap lelaki juga begitu. Lahir dengan sejumlah tertentu kapasitas orgasme.”
Ia diam sebentar. Lalu tawanya meledak.
“Kalau jumlah itu sudah terlewati, berarti jatahnya habis,” kataku lagi.
Ia tertawa lagi. Tapi, sesungguhnya aku tidak melucu. Aku sendiri tak tahu apa motifku. Apakah aku ingin tahu adakah teori itu benar. Ataukah, aku sesungguhnya sudah merasa intim dengan lelaki berbau manusia ini. Aku tak tahu apa yang kukatakan.
Kutemukan ia menatapku lebih lama. Dan lebih dalam. Kubalas ia sebentar. Setelah itu aku merasa wajahku hangat. Kubu- ang pandangan ke jendela. Aku lebih muda dari dia. Tapi tetap aku tak muda lagi. Dan aku beranak dua. Meskipun diriku yang bertanggung jawab telah kutitipkan bersama nyawaku di kotak hitam.
Aku ingin bertanya padanya. Jatahmu sudah diboroskan belum?
Pesawat melonjak. Bagai ada lubang besar di jalanannya. Lampu tanda kenakan sabuk pengaman menyala. Aku merasa berayun ke kiri ke kanan. Seperti dalam bis malam yang mencicit di jalan licin berbatu. Aku mencoba tidak mencengkeram dahan kursi. Tapi keringat dinginku merembes sedikit di dahi.
Tiba-tiba ia menangkupkan tangannya pada tanganku di tangkai kursi. Seperti seorang suami. Kalau ada apa-apa, kita mengalaminya bersama-sama.
Aku memejamkan mata. Aku tak tahu, apakah dalam sisa perjalanan aku bersandar di bahunya.
Tapi, pesawat mendarat juga di Soekarno-Hatta. Ia membantuku mengemasi bagasi.
Aku telah di tanah lagi. Aku harus pergi ke kokpit mengambil kembali nyawa dan diriku dari kotak hitam. Nyawa dan diriku yang lebih peka dan penakut ketimbang yang duduk tadi. Ingin rasanya aku meminta lelaki berwajah baik itu menemaniku terus sampai sepotong jiwaku bergabung kembali. Sepotong yang dibawa Jati….

13 Maret 2008
(Cerpen ini adalah salah satu dari 20 Cerpen Terbaik Indonesia 2009, Anugerah sastra Pena Kencana)

Kartu Pos dari Surga

Cerpen Agus Noor

Mobil jemputan sekolah belum lagi berhenti, Beningnya langsung meloncat menghambur. ”Hati-hati!” teriak sopir. Tapi gadis kecil itu malah mempercepat larinya. Seperti capung ia melintas halaman. Ia ingin segera membuka kotak pos itu. Pasti kartu pos dari Mama telah tiba. Di kelas, tadi, ia sudah sibuk membayang-bayangkan: bergambar apakah kartu pos Mama kali ini? Hingga Bu Guru menegurnya karena terus-terusan melamun.
Beningnya tertegun, mendapati kotak itu kosong. Ia melongok, barangkali kartu pos itu terselip di dalamnya. Tapi memang tak ada. Apa Mama begitu sibuk hingga lupa mengirim kartu pos? Mungkin Bi Sari sudah mengambilnya! Beningnya pun segera berlari berteriak, ”Biiikkk…, Bibiiikkk….” Ia nyaris kepleset dan menabrak pintu. Bik Sari yang sedang mengepel sampai kaget melihat Beningnya terengah-engah begitu.
”Ada apa, Non?”
”Kartu posnya udah diambil Bibik, ya?”
Tongkat pel yang dipegangnya nyaris terlepas, dan Bik Sari merasa mulutnya langsung kaku. Ia harus menjawab apa? Bik Sari bisa melihat mata kecil yang bening itu seketika meredup, seakan sudah menebak, karna ia terus diam saja. Sungguh, ia selalu tak tahan melihat mata yang kecewa itu.
Marwan hanya diam ketika Bik Sari cerita kejadian siang tadi. ”Sekarang, setiap pulang, Beningnya selalu nanya kartu pos…” suara pembantunya terdengar serba salah. ”Saya ndak tahu mesti jawab apa…” Memang, tak gampang menjelaskan semuanya pada anak itu. Ia masih belum genap enam tahun. Marwan sendiri selalu berusaha menghindari jawaban langsung bila anaknya bertanya, ”Kok kartu pos Mama belum datang ya, Pa?”
”Mungkin Pak Posnya lagi sakit. Jadi belum sempet ngater kemari…”
Lalu ia mengelus lembut anaknya. Ia tak menyangka, betapa soal kartu pos ini akan membuatnya mesti mengarang-ngarang jawaban.
Pekerjaan Ren membuatnya sering bepergian. Kadang bisa sebulan tak pulang. Dari kota-kota yang disinggahi, ia selalu mengirimkan kartu pos buat Beningnya. Marwan kadang meledek istrinya, ”Hari gini masih pake kartu pos?” Karna Ren sebenarnya bisa telepon atau kirim SMS. Meski baru play group, Beningnya sudah pegang hape. Sekolahnya memang mengharuskan setiap murid punya hand phone agar bisa dicek sewaktu-waktu, terutama saat bubaran sekolah, untuk berjaga-jaga kalau ada penculikan.
”Kau memang tak pernah merasakan bagaimana bahagianya dapat kartu pos…”
Marwan tak lagi menggoda bila Ren sudah menjawab seperti itu. Sepanjang hidupnya, Marwan tak pernah menerima kartu pos. Bahkan, rasanya, ia pun jarang dapat surat pos yang membuatnya bahagia. Saat SMP, banyak temannya yang punya sahabat pena, yang dikenal lewat rubrik majalah. Mereka akan berteriak senang bila menerima surat balasan atau kartu pos, dan memamerkannya dengan membacanya keras-keras. Karena iri, Marwan pernah diam-diam menulis surat untuk dirinya sendiri, lantas mengeposkannya. Ia pun berusaha tampak gembira ketika surat yang dikirimkannya sendiri itu ia terima.
Ren sejak kanak sering menerima kiriman kartu pos dari Ayahnya yang pelaut. ”Setiap kali menerima kartu pos darinya, aku selalu merasa Ayahku muncul dari negeri-negeri yang jauh. Negeri yang gambarnya ada dalam kartu pos itu…” ujar Ren. Marwan ingat, bagaimana Ren bercerita, dengan suara penuh kenangan, ”Aku selalu mengeluarkan semua kartu pos itu, setiap Ayah pulang.” Ren kecil duduk di pangkuan, sementara Ayahnya berkisah keindahan kota-kota pada kartu pos yang mereka pandangi. ”Itulah saat-saat menyenangkan dan membanggakan punya Ayah pelaut.” Ren merawat kartu pos itu seperti merawat kenangan. ”Mungkin aku memang jadul. Aku hanya ingin Beningnya punya kebahagiaan yang aku rasakan…”
Tak ingin berbantahan, Marwan diam. Meski tetap saja ia merasa aneh, dan yang lucu: pernah suatu kali Ren sudah pulang, tetapi kartu pos yang dikirimkannya dari kota yang disinggahi baru sampai tiga hari kemudian!
Ketukan di pintu membuat Marwan bangkit dan ia mendapati Beningnya berdiri sayu menenteng kotak kayu. Itu kotak kayu pemberian Ren. Kotak kayu yang dulu juga dipakai Ren menyimpan kartu pos dari Ayahnya. Marwan melirik jam dinding kamarnya. Pukul 11.20.
”Enggak bisa tidur, ya? Mo tidur di kamar Papa?”
Marwan menggandeng anaknya masuk.
”Besok Papa bisa anter Beningnya enggak?” tiba-tiba anaknya bertanya.
”Nganter ke mana? Pizza Hut?”
Beningnya menggeleng.
”Ke mana?”
”Ke rumah Pak Pos…”
Marwan merasakan sesuatu mendesir di dadanya.
”Kalu emang Pak Posnya sakit biar besok Beningnya aja yang ke rumahnya, ngambil kartu pos dari Mama.”
Marwan hanya diam, bahkan ketika anaknya mulai mengeluarkan setumpuk kartu pos dari kotak itu. Ia mencoba menarik perhatian Beningnya dengan memutar DVD Pokoyo, kartun kesukaannya. Tapi Beningnya terus sibuk memandangi gambar-gambar kartu pos itu. Sudut kota tua. Siluet menara dengan burung-burung melintas langit jernih. Sepeda yang berjajar di tepian kanal. Pagoda kuning keemasan. Deretan kafe payung warna sepia. Dermaga dengan deretan yacht tertambat. Air mancur dan patung bocah bersayap. Gambar pada dinding goa. Bukit karang yang menjulang. Semua itu menjadi tampak lebih indah dalam kartu pos. Rasanya, ia kini mulai dapat memahami, kenapa seorang pengarang bisa begitu terobsesi pada senja dan ingin memotongnya menjadi kartu pos buat pacarnya.
Andai ada Ren, pasti akan dikisahkannya gambar-gambar di kartu pos itu hingga Beningnya tertidur. Ah, bagaimanakah ia mesti menjelaskan semuanya pada bocah itu?
”Bilang saja Mamanya pergi…” kata Ita, teman sekantor, saat Marwan makan siang bersama. Marwan masih ngantuk karena baru tidur menjelang jam lima pagi, setelah Beningnya pulas,
”Bagaimana kalau ia malah terus bertanya, kapan pulangnya?”
”Ya sudah, kamu jelaskan saja pelan-pelan yang sebenarnya.”
Itulah. Ia selalu merasa bingung, dari mana mesti memulainya? Marwan menatap Ita, yang tampak memberi isyarat agar ia melihat ke sebelah. Beberapa rekan sekantornya terlihat tengah memandang mejanya dengan mata penuh gosip. Pasti mereka menduga ia dan Ita….
”Atau kamu bisa saja tulis kartu pos buat dia. Seolah-olah itu dari Ren....”
Marwan tersenyum. Merasa lucu karena ingat kisah masa lalunya.
Mobil jemputan belum lagi berhenti ketika Marwan melihat Beningnya meloncat turun. Marwan mendengar teriakan sopir yang menyuruh hati-hati, tetapi bocah itu telah melesat menuju kotak pos di pagar rumah. Marwan tersenyum. Ia sengaja tak masuk kantor untuk melihat Beningnya gembira ketika mendapati kartu pos itu. Kartu pos yang diam-diam ia kirim. Dari jendela ia bisa melihat anaknya memandangi kartu pos itu, seperti tercekat, kemudian berlarian tergesa masuk rumah.
Marwan menyambut gembira ketika Beningnya menyodorkan kartu pos itu.
”Wah, udah datang ya kartu posnya?”
Marwan melihat mata Beningnya berkaca-kaca.
”Ini bukan kartu pos dari Mama!” Jari mungilnya menunjuk kartu pos itu. ”Ini bukan tulisan Mama…”
Marwan tak berani menatap mata anaknya, ketika Beningnya terisak dan berlari ke kamarnya. Bahkan membohongi anaknya saja ia tak bisa! Barangkali memang harus berterus terang. Tapi bagaimanakah menjelaskan kematian pada anak seusianya? Rasanya akan lebih mudah bila jenazah Ren terbaring di rumah. Ia bisa membiarkan Beningnya melihat Mamanya terakhir kali. Membiarkannya ikut ke pemakaman. Mungkin ia akan terus-terusan menangis karena merasakan kehilangan. Tetapi rasanya jauh lebih mudah menenangkan Beningnya dari tangisnya ketimbang harus menjelaskan bahwa pesawat Ren jatuh ke laut dan mayatnya tak pernah ditemukan.
Ketukan gugup di pintu membuat Marwan bergegas bangun. Dua belas lewat, sekilas ia melihat jam kamarnya.
”Ada apa?” Marwan mendapati Bik Sari yang pucat.
”Beningnya…”
Bergegas Marwan mengikuti Bik Sari. Dan ia tercekat di depan kamar anaknya. Ada cahaya terang keluar dari celah pintu yang bukan cahaya lampu. Cahaya yang terang keperakan. Dan ia mendengar Beningnya yang cekikikan riang, seperti tengah bercakap-cakap dengan seseorang. Hawa dingin bagai merembes dari dinding. Bau wangi yang ganjil mengambang. Dan cahaya itu makin menggenangi lantai. Rasanya ia hendak terserap amblas ke dalam kamar.
”Beningnya! Beningnya!” Marwan segera menggedor pintu kamar yang entah kenapa begitu sulit ia buka. Ia melihat ada asap lembut, serupa kabut, keluar dari lubang kunci. Bau sangit membuatnya tersedak. Lebih keras dari bau amoniak. Ia menduga terjadi kebakaran dan makin panik membayangkan api mulai melahap kasur.
”Beningnya! Beningnya!” Bik Sari ikut berteriak memanggil.
”Buka Beningnya! Cepat buka!”
Entahlah berapa lama ia menggedor, ketika akhirnya cahaya keperakan itu seketika lenyap dan pintu terbuka. Beningnya berdiri sambil memegangi selimut. Segera Marwan menyambar mendekapnya. Ia melongok ke dalam kamar, tak ada api, semua rapi. Hanya kartu pos-kartu pos yang berserakan.
”Tadi Mama datang,” pelan Beningnya bicara. ”Kata Mama tukang posnya emang sakit, jadi Mama mesti nganter kartu posnya sendiri….”
Beningnya mengulurkan tangan. Marwan mendapati sepotong kain serupa kartu pos dipegangi anaknya. Marwan menerima dan mengamati kain itu. Kain kafan yang tepiannya kecoklatan bagai bekas terbakar.

Agus Noor, Singapura-Yogyakarta, 2008

(Cerpen ini merupakan salah satu dari 20 Cerpen Terbaik Indonesia 2009, Anugerah Sastra Pena Kencana)

Kamis, 29 Desember 2011

Istana Cokelat

Cerpen Mulya Abdul Syukur

Aku melayang. Berayun naik-turun. Segala sesuatu di depanku terlihat sama. Tapi aku tak peduli. Aku benar-benar menikmatinya. Potongan cokelat terakhir yang kulahap menyebarkan rasa manis yang hangat. Matahari yang terlihat di antara lengkungan cabang dan ranting mengirimkan bayangan dedaunan di wajahku. Senyumku melebar.

Kalau saja hidup sesederhana ini, kurasa aku tak akan pernah melewatkan sedetikpun dalam hidupku. Meresapi segala kenikmatan yang tersimpan dan menunggu untuk ditemukan. ''Ismail!'' kata Emir. Aku menghentikan papan ayunanku, menoleh padanya. Dia duduk di papan satunya lagi. Tangannya yang putih bersih terampil membuka kertas timah yang tampak berkilat. Sebatang cokelat utuh dan tampak menggoda terbuka di pangkuannya. Ia membagi kudapan itu menjadi dua bagian, memberikan potongan yang sama besar untukku. ''Makanlah!'' Katanya. ''Hidup sudah cukup pahit. Cokelat membuat perasaanmu lebih baik, bukan?'' Aku tahu dia akan berkata seperti itu. Kalimat itu sering kudengar saban hari sejak kami mulai bersahabat.

Aku dilahirkan dari keluarga sederhana. Ibuku hanya lulus SMP, ayahku bekerja serabutan, dan rumah mungkil kami hanya sedikit perabot. Hidup kami bisa dibilang sempurna. Ibuku wanita bahagia yang tidak pernah kehilangan lelucon dan ledakan tawa. Setiap hari ia bekerja di dapur, berkutat dengan aroma bumbu dan dentingan spatula. Ibu membagi waktunya dengan sempurna untukku, untuk ayah, dan untuk pekerjaan sambilannya. Namun bertahun-tahun berlalu, aku menyaksikan dengan cemas tawa di wajah ibuku perlahan-lahan padam, hilang sama sekali. Seandainya saja seorang pengemudi setengah mabuk tidak menabrak ayahku hingga tewas, hidupku tidak akan pernah terasa pahit.

''Bagaimana rasanya?'' Emir menghentakkan kakinya ke tanah, berayun dengan kencang di sampingku. Aku menggigit batangan cokelat yang renyah dan garing. Kehangatan kembali menyebar di tubuhku. ''Aku suka cokelat.'' kataku. ''Seandainya saja aku kaya, aku akan membuat Istana Cokelat dan hidup di dalamnya hingga dunia kiamat.''

Emir tertawa. ''Kupikir aku akan melakukan hal yang sama. Itu keren!''.
Aku berpaling padanya, menyaksikan jemarinya yagn mencengkeram rantai ayunan, wajahnya yang tersenyum pada langit, dan matanya yang terpejam menikmati angin. Tiba-tiba gelombang rasa sakit menerpaku.

Pertamakali aku bertemu dengannya, aku menyadari kesamaan di antara kami berdua: nasib buruk. Ia kehilangan ibunya dan menjalani hari-hari yang suram bersama ayahnya yang tempramen. Aku kehilangan ayahku dan hidup dalam ketidakpastian. Ayah Emir seorang Lurah kaya-raya dengan mobil mengkilap dan rumah mewah yang mengundang pertanyaan para warga. Perutnya terlihat bengkak, raut wajahnya kaku dan seram. Ia pernah membuat warga panik dengan letusan senjata apinya yang membahana, gara-gara hal sepele yang melibatkan bayangan kucing di halaman belakang. Sejak saat itu ia bersumpah, bahwa ia tak bakal segan-segan mengosongkan amunisinya jika melihat bayangan penyusup lagi di pekarangan rumahnya. Satu hal yang membuatnya begitu, ia benar-benar kikir. Ia memimpin desa dengan buruk dan kejam. Berbeda dengan janji-janjinya semasa kampanye dulu, janji-janji dan kelang sarden yang ditinggalkan di pintu-pintu rumah. Emir membenci ayahnya. Membenci segala hal yagn ia dapatkan sejak rumor tentang korupsi dan kebobrokkan ayahnya mencuat. Ia sering berkata padaku bahwa ia benar-benar menyesal dengan darah yang mengalir di tubuhnya. Aku mencoba menghentikannya, tapi sayangnya itu tak banyak berpengaruh.

Orang-orang dewasa sering memanggilnya, membelai wajahnya yang tampan, dan mengamati lekat-lekat matanya yang berbinar, hanya untuk mengatakan satu hal: ''Kau benar-benar mirip ayahmu, Emir.'' Pada awalnya hal itu tidak terlalu mengganggu. Namun sejak kami beranjak remaja, sejak kami bisa menilai berbagai hal dan menentukan apa saja yang kami inginkan, Emir tidak menyukai hal itu.

Suatu hari, demi menentang pernyataan orang-orang dewasa, ia berdiri di depan cermin dan berdandan seperti anak perempuan. Ia mengenakan kerudung, rok dan sepatu anak perempuan yang dipinjamnya dari seorang teman. Ia berjalan ke sekolah, menggegerkan semua orang, dan jujur saja, membuatku malu. ''Apa yang kau lakukan?'' Aku menarik tangannya, menyeretnya ke kamar mandi. ''Aku berharap orang-orang melihatku dan berkata betapa miripnya aku dengan ibuku.'' Ia terdengar malu dan pasrah. ''Aku tidak suka mereka bilang aku mirip ayah.''
Bahuku tiba-tiba merosot. Aku membiarkannya terpaku di depan cermin, lalu masuk ke dalam bilik kloset dan mengunci diri di dalamnya. Aku menyalakan keran keras-keras; Emir tak perlu tahu aku sedang menangis.
''Kapan ibumu pulang?''Emir mengagetkanku.

Ibuku sudah tiga tahun di Arab Saudi. Selama ini aku tinggal bersama nenekku yang sakit-sakitan. Aku terpaksa berhenti sekolah untuk membantunya membeli eras dan lauk-pauk. Ibuku tidak pernah mengirimkan uang. Hubungan kami terputus sejak kami berpelukan distanplat terminal bertahun-tahun yang lalu. Beberapa bulan setelah orang-orang mengubur ayahku. Aku masih merasakan pelukannya yang hangat ditubuhku. ''Berjanjilah untuk kembali secepatnya.'' Kataku. Ibuku mengangguk. ''Belikan aku sarung dan peci baru, Mama.'' Ia mengeratkan dekapannya. Aku memejamkan mataku yang basah. Rambutnya harum, hitam bergelombang. Aku akan sangat merindukannya.
''Idul Adha nanti. ''Kataku.''Seseorang mengabariku. Dia sama seperti Mama. Tapi dia pulang lebih dulu berminggu-minggu lalu. ''Aku menelan gumpalan cokelat di mulutku. Berhenti berayun. Menendang-nendang kerikil dengan ujung kakiku. ''0 ya, apakah ayahmu tidak berkurban tahun ini?''

Emir tersenyum lelah. Memandangku tak berdaya. ''Kau tahu dia tak akan melakukannya. Kuharap suatu saat Tuhan bakal memaksanya mengorbankan sesuatu yang paling dicintainya. ''Ia beranjak dari papan ayunan. ''Ayo pergi. Sepertinya aku butuh udara segar.''
Aku tersenyum. Berlari mengejarnya. Rerumputan di kaki kami menari bersama angin.

******

Emir berdiri di depan cermin kamarku. Mengagumi penampilan barunya yang mengejutkan. Sore itu, tiba-tiba saja ia berlari ke rumahku berkata bahwa ia ingin terlihat sebagaimana ia melihatku. Maka aku mengantarnya ke kios pangkas rambut langgananku, meminjaminya kaos butut berlengan pendek, dan membiarkannya tenggelam dalam rasa bangga karena terlihat seperti gelandangan. Dia bilang, ''Apa aku sudah cukup terlihat kumur?'' Aku tersenyum.

Malam itu gema takbir berkumandang dari pengeras suara masjid-masjid. Kami berkeliling membawa obor, bersuka cita di antara suara tabuhan beduk dan letupan bunga-bunga api.Aku menunjukkan padanya, bahwa seperti inilah cara kami merayakan malam takbir. Berkeliling dari sudut ke sudut kampung. Memecah kesunyian yang tercipta sejak matahari meninggalkan singgasananya di langit. Sambil membuntuti iring-iringan pawai, Emir dan aku menendang-nendang bola dengan riang. Saling berbagi operan, sundulan, hingga pakaian kami basah dan bernoda gelap. Suatu ketika aku menyundul bola itu terlalu keras, hingga kami harus melihatnya lenyap di balik tembok semen sebuah bangunan. ''Jangan cemas, serahkan saja padaku.'' Kata Emir riang. Ia memanjat tembok pagar dan menghilang dibalik kegelapan sebelum aku mampu mencegahnya.

Aku terlambat menyadari apa yang baru saja terjadi. Alih-alih menunggu, aku menyusulnya tergesa-gesa. Memanjat tembok itu, menghindari deretan baling runcing yang sengaja disematkan, dan mendarat di atasu semak-semak yang kasar. Aku melihatnya membungkuk di bawah sebuah pohon, cahaya lampu dari belakang rumah gedongnya membuat sosok Emir hanya berupa siluet gelap yang dingin dan misterius. Aku berjalan pelan-pelan, walaupun aku ingin seali berlari. Teriakanku tertahan di kerongkongan saat itu juga. Waktu berjalan sangat lambat. Membekukan segalanya. Merampas ingar-bingar yang semula terdengar. Sebelum aku sempat meraih tangannya, tiba-tiba saja sebuah ledakan terdengar. Begitu keras!!!.

Emir mendadak roboh di sampingku. Ledakan kedua menyusul. Sesuatu yang basah menggelegak dari tubuhku.
Aku mendarat keras di permukaan tanah yang beku dan asing. Sebutir peluru panas menaklukkanku.

''Ismail, ''bisik Emir. ''Aku melihatnya, aku melihat Istana itu... Istana Cokelat kita....burung-burung terbang dengan riang.... ''Aku menggenggam tangannya. Rasanya dingin. Persis seperti tanganku.

*****

Aku menyaksikan segalanya dari balik jendela bus tua yang membawaku. Segala sesuatu tampak berbeda sekarang ini. Tiga tahun sudah aku meninggalkan tempat ini. Demi masa depanku. Demi putraku. Demi Ismail. ''Mama, bawakan aku peci dan sarung baru''. Aku memejamkan mata. Rasanya berabad-abad sudah sejak aku mendengar kata-kata itu. Ismailku tersayang, sudah seperti apa rupamu saat ini, nak? Aku kembali mengeratkan sweter yang membungkus tubuhku. Menutupi luka-luka yang kudapatkan ketika aku terkurung di rumah keluarga asing yang tidak bisa menegaskan sikapnya tanpa menyakitiku. Tapi aku tak mau siapapun tahu apa yang menimpaku. Bahkan putraku. Aku memeluk peci dan sarung baru dalam tas plastik kusam, kondektur membukakan pintu untukku. ''Ismail, aku pulang, nak.''Hatiku berkata. Namun saat aku menurunkan kakiku di tepi jalan, di tanah dimana aku dibuai dan dilahirkan, hatiku tiba-tiba terasa hampa. Aku merasa sangat kesepian.

----------------------
Mulya Abdul Syukur
Mahasiswa UIN Suska Riau
Istana Cokelat ini memenangkan ( pemenang, juara ) lomba Cerpen Xpresi 2010 kategori Mahasiswa.

Kamis, 22 Desember 2011

Musim Kesunyian

Cerpen Ai El Afif

Hujan-
Wanita itu menamai dirinya penantian. Telah direngkuhnya tilas waktu yang membekukan kenangan. Ia lelah menamai segala benda-benda. Berupa-rupa wewangian: harum melati, lembut angin, embun di pucuk bunga-bunga, membawanya pada pelayaran kisah. Ia luruh untuk kali pertama.

Telah dicecapnya kerinduan tak berkesudah. Lelaki penenung. Hembus suaranya membuat wanita itu terombang-ambing. Dadanya sarat getar. Semalam-malam, di mana ia mengurung diri, didapati dunia terlampau luas kini.

Wanita itu menyibak tirai. Menatap hujan di luar sana. Tetes air menjelma beling. Berkilap. Gemertap. Serupa kidung agung di puncak keabadian.
Ia terhanyut meresapi keberadaan. Melupakan geliat asing di luar sana. Ia tak tahu, kapan orang-orang menjumpai naungan seperti halnya kepergian.

Punggung-pungung sunyi itu berpasang. Berlalu. Menggenggam pilu seiring tapak kaki. Bulan mengarak bintang. Bertudung lindap, menyisakan gerak cambuk petir. Wanita itu menghempas rasa yang meriak.
Tanah basah. Matanya basah.
*

Tilas Kenangan-
Sulit membayangkan wanita itu sekarang. Tersibak resah di waktu tengah rebah. Telah lama ia berdiri di sana. Menyingkap tirai, berdiam berpeluk dingin. Matanya menatap sesuatu. Entah menghitung apa yang tak kasat.

Kuakui, sepasang matanya menghempasku dalam liku yang panjang.

Langit rebah. Mewarna tanah. Jatuh malam. Kemilau tersiram hujan. Kemilau melompat di jendela. Rindu. Rindu mendera-dera.Air menyiram atap rumah. Basah. Basah menggumamkan doa-doa. Padanya di seberang. Padanya memetik kewarasan. Mengapung dan tersaruk di bibir jendela. Bulan resah, meredupkan diri. Lesat petir memantik. Terang sesaat, gelap kemudian.

Orang-orang itu mengasingkan diri. Mengepak barang seadanya dan berlalu. Berpergian seiring kepedihan. Di tiap jengkal tanah, kutemukan remah-remah luka. Gema melebur di kejauhan. Menyisakan dengung tangan menggaruk pilu.

Memerah badan mereka. Pada leher, badan, lengan dan kaki. Sepanjang malam, keluh-kesah dari rumah ke rumah beterbangan. Berhambur serupa debu tertiup hampa.
Tak lagi kudapati keluhan itu kini.

Bagaimana kita menamai keadaan?

Kali pertama aku menemukan satu. Sebab kehidupan melahirkannya entah dari mana. Kuinjak. Mati. Kali lain kutemukan dua. Lalu tiga yang meresahkan. Seketika pepohonan, buah-buah, bunga-bunga, segala benda, telah mereka tempeli penuh-penuh.

Ulat-ulat berpesta pora. Menggeliat. Berbulu. Menyebarkan gatal merata. Tubuh mereka melekuk-lekuk. Terkembang jijik dari sesiapa yang menatap. Mungkin ulat-ulat itu mencari hangat waktu. Seperti bayi merayu dalam dekap ibu.

Angin telimpuh. Menyadap alam berkabung. Langit muram bagai kerudung wanita di pemakaman. Kematian rasa melahirkan luka menganga. Bersama daun yang jatuh berputar, saat itu kutemukan cacat di tiap lembar. Ulat menyantapnya. Menyisakan lubang, mengusir kumbang. Sepi mendera. Korak sayap serangga berganti rintih sekarat.

Oh, apalah tempat ini… Tanah mengerang mati. Bebunga menafsir maut. Melarutkan rupa dalam gersang yang asing.

Wanita itu, mengapa ia tak pergi seperti yang lain?
*

Kidung Semusim-
Biarkan aku mendamba. Dahaga membawaku berlari. Tak mampu kuraup keindahan kata, sebab kutemukan wadah hatiku pecah…

Suara itu, seumpama laut yang menggoda. Tapi asin terlahir dari mataku yang basah. Duh, angin cemburu. Mungkin deru terkalahkan degup dada bertalu-bertalu. Apa yang kutahu tentang waktu dan cinta? Aku dewasa sebelum waktunya. Dan diammu menyiksa.

Di sini, aku tertusuk sepi. Terhempas dalam gelungan nestapa. Tiap permulaan membawa pada kesakitan. Lekuk tinta itu awal mula penyesat.

Bagimu, akulah keindahan. Katamu, rambutku puisi. Mataku puisi. Jemariku puisi. Tubuhku puisi. Maka tulislah… Apa yang ada ditiap jengkal wanita adalah puisi.

Semalam-malam, terpintal gelap tak berujung lelap. Kau membekap dalam bius yang suram. Mungkin saja gila, atau ini kali pertama kewarasan tertelan. Kau dua puluh lima. Aku sembilan belas. Enam angka membentang jarak.

Getar luruh ke tangan. Tanyalah, apa hatiku utuh? Karena hatimu batu, terima kasih melambungkan angan menempuh batas entah. Wajahmu sejernih gelas. Meski sikapmu serupa bayang-bayang. Hatiku berdarah. Mataku basah.

Aku membuka lipatan kertas itu. Kerumitan tercipta di sana. Keadaan bagimu, sama rumitnya. Ulat-ulat membanyak. Menyerbu alam tak sungkan. Ia mencipta lubang pada daun. Membuat goresan pada badan. Bersenandung pada apa saja yang terlihat.

“Wanita potongan puisi. Lelaki gerak tinta mengurai gelora.” Kau menghembus jenuh. Kurebut kertas itu. Alam disegarkan oleh hijau daun meski kudapati wajahmu layu.

Sewaktu itu kerap rasa tak berpamit. Gelisah mendingin. Terbang meninggalkan badan. Ada hangat dari tilas yang beku. Tersapu kabut dari gerak bibir menghela sunyi. Semestinya kau beroleh restu pada cahaya—yang tersungkur saat air mata kering dan fajar merekah.

Kuakui, untuk kali sekian pahit berkelindan. Lagi. Kuresapi lekuk tulisan itu. Memikat. Mengingatkan delisik dahan di luar sana. Aku merasa berkabung seketika itu. Meski bibir mencipta senyum, namun dada mengungkap kepedihan.

Duh, lelaki… Adakah kau tahu tentang hati yang resah?
*

Jingga Jendela -
Selalu ia menunggu pagi begini. Pada langit, didapati fajar pecah berkecai-kecai. Lelaki itu menatap jingga dari jendela. Warna yang mengusir gelap. Dirasakan semuanya sembari menutup mata. Damai. Ada hangat yang membagi pada tanah.

Di seberang, ditemui sepasang mata sayu dari perawan sendu. Telah lama ia berdiri. Menunggui pagi begini. Bersamanya. Di tanah yang sama. Di bangunan berbeda. Mereka mendengar lagu pucat alam sekarat. Bergema. Memantul pada batu-batu. Memantul pada tanah. Lelaki itu percaya, wanita adalah keindahan. Dan wanita itu percaya, ulat-ulat memberi kecantikan tak terbilang.

Lelaki di jendela meriap resah. Sebab pagi begini, wanita di jendela menyapa ulat-ulat. Ia tak pernah mampu menebak isi kepalanya. Seperti ia tak mampu mengurai degup dadanya.

Malam membuat keduanya selalu terjaga. Nyanyi angin tak memberi lelap. Keduanya terlupa mimpi. Terlupa warna bunga-bunga di pembaringan. Mungkin kilatan petir mencabik kelopak bunga-bunga tidur. Tak pernah keduanya didera rindu. Rindu untuk membau bebunga yang dimekarkan waktu. Hanya mata menatap ulat-ulat. Terpekur, menembusi sunyi mencipta sealir linang. Keduanya mencecap asin yang menggantungi bibir. Hijau tak lagi ditemuinya kini. Dan lelaki itu selalu bertanya, bagaimana kita menamai keadaan?
*

Wanita itu berdoa agar alam melewati masa sekarat. Pada tanah yang diserbuki jingga, kenangan bernaung entah di mana. Dahulu, langkah-langkah kaki riuh menyoraki pagi. Dan serangga menghisap sari untuk disantap sendiri. Ia merindukan masa silam.

Pagi menyapa bersama lelaki di jendela berbeda. Enggan ia pergi sebab kenangan ibu. Ia ingin menjaga hangat ibu di kepala. Di rumah. Di tiap jengkal dinding yang urung bercerita.
Baginya, alam sekarat sebelum hari baru terlahir kelak. Ia menunggu alam berganti rupa. Ulat-ulat itu hanya penanda. Ia percaya, keberhasilan tertelan usai melewati masa bosan penantian.
Lewat jendela, wanita itu menghantarsenyum untuk ibu di surga.
*

Kemilau Mata-
Pintu rumahnya terkuak. Wanita itu keluar bersama gamang. Desah terlahir di bibirnya. Rambutnya tergerai, meleha dihembus angin pagi. Aku menelusuri tiap gerak wanita itu. Terkadang aku tak mengerti isi kepalanya. Wajahnya mengilap diterpa sinar. Menampakkan sisa letih yang menggantungi ia semalam-malam.

Tersenyum ia padaku. Sebelumnya, dari jendela ia juga tersenyum. Keindahan ini yang membuatku bertahan… Aku mengumpulkan kesadaran. Tapi degup dada merajam. Menikam-nikam. Dikarenakan keindahan, tiada habis aku memuja. Pesona senyum itu membuat pening. Melintas-lintas tentangnya, melahirkan keringat dan getar. Aku ingin raib.

Wanita itu berlutut, seperti hendak memungut remah-remah hujan semalam. Kembali ia melakukan keganjilan. Mungkin menyapa ulat-ulat. Menanyai ke mana ibu mereka pergi. Ia tengadah. Sasar matanya di lekuk-lekuk awan biru. Matanya berkabut.

Awalnya ia cemas sepertiku. Mengira alam murka. Dan awan memuntahkan ulat bukan hujan. Tapi tidak lagi kini. Ia bertambah senang mendapati ulat-ulat membanyak. Lakunya menggenapkan segala keganjilan. Betapa…

Aku beranjak. Menutup tirai. Adakah hampa begini meraja? Di ruang ini, ilham berteman tinta, dan kalimat yang kusamak menjelma puisi. Sepi kuingini. Kepergian orang-orang memberi kesempatan. Tak pernah tuntas segala tulisan sejak puisi itu kau rebut. Sesat pikiran mengembara. Usai kesadaran berpulang, tak ada yang dibawanya selain kosong sempurna.

Aku berusaha tak tumbang. Kaki ini membawa badan menemuimu. Tapi hati, bagaimana degup melenyapkan kata-kata? Aku meraba-raba mencari pegangan. Kuakui, tak ada yang menyiksa selain tenggelam di kedalaman mata itu.

Kalimat pertama tersulam di lidah. Kuperam-peram siap kulontarkan. Sewaktu itu pula kau berbalik badan. Enyahlah semua. Kebisuan meringkus. Hangat mentari bagai pecahan cermin menghujam badan. Matamu basah.

Wanita belia, mengapa kau berteman tanya?
Seketika aku kaku.
*

Tembang Wanita-
Akhir-akhir ini alam tak tertebak. Sama seperti lelaki itu. Berubah-ubah. Apa yang diingini rinai hujan semalam. Tak pernah ada jawaban. Hatiku melengking-lengking karena pagi membawa lara.
Baru saja dua senyum dimulai hari ini. Senyum untuk ibu, senyum untuk lelaki itu. Sementara airmata, berurai untuk ulat-ulat.

Di tanah lembab, tubuh-tubuh kecil itu terserak. Awan melahirkan mereka. Namun hujan menguyupkan, merayu tanah menjelma kubur. Angin dan hujan jatuh cinta. Dan sebab itu aku berduka. Kematian ulat-ulat seperti mimpi buruk. Aku tengadah, menatap lekuk-lekuk awan.
Puaskah hujan memutus napas ulat-ulat?

Hatiku diremas-remas pedih. Kualihkan mata, menyadap sepi bergenta ditiap rumah tak berpenghuni. Terlampau jijik orang-orang itu akan ulat.

Tanah yang akrab sejak kanak… Tapak-tapak kaki pernah kutoreh di atasmu. Gugur bunga-bunga pernah memandikanmu. Mengapa kau menghapus semua? Seolah tubuhmu makam yang menimbun kenangan. Tak setia kau pada batang pohon yang cacat. Meski tak dirimbuni daun, tetap ia tegap melindungi.

Aku menggigit bibir. Membalikkan badan. Saat ingin meneriakkan luka, lelaki itu muncul di belakangku tiba-tiba. Tanah memaku kaki. Tubuhku membatu. Hanya mata meretaskan hangat menyambut kehadirannya.
*

“Jangan bilang kau ingin berpamit.” Aku memecah bisu di tengah luka menganga. Lelaki itu mendesah. Mataku masih menyisakan kaca.

“Aku memerlukan naungan dan ilham. Sepi menjernihkan kepala.”

“Malam melukis lingkar hitam di pelupuk matamu.”

“Gelap tak memberi lelap.” Lelaki itu membuat teguk. “Airmata mengubahmu. Seperti tanah ini.”
“Duka mendewasakanku.”

“Apa yang kau harap dari alam sekarat?”

“Ibuku memang telah pergi. Tapi kenangan tetap menghidupkannya. Aku tak ingin meninggalkan kenangan itu, membuat ia berkarib sunyi.”

“Dan ulat-ulat?”

“Aku percaya ulat-ulat bentuk lain dari kecantikan.”

“Orang-orang menamai ulat-ulat itu kutukan. Bertambah hari, ulat-ulat itu membanyak. Kemarin jemu menapaki puncak. Mereka tak tahan lagi.”

“Aku membenci tanah yang dibisiki hujan.”

“Ulat-ulat tak memberi apa-apa.”

“Sebab lain aku tak pergi karena ulat-ulat ini. Hujan menyisakan maut. Kau tak mengerti resah.”

“Tetaplah menjadi anak-anak. Kau takkan bisa dewasa.”

Lelaki ini memuakkan.

Aku menumpah kesal dengan memungut ulat-ulat. Satu demi satu kutampung di telapak tangan kiri. Lelaki itu menghentikan. Sia-sia. Aku ingin menyimpan makhluk-makhluk awan di rumah. Tak pernah ia mengerti arti kehilangan.

Duh, hatiku ibu. Ternyata usia menghantar demam. Aku merindu masa lalu namun kerak menyiangi seperti gulma.

Tanganku memerah. Perih. Aku berlalu. Menepis panggilan berselimut penyesalan. Lelaki itu terlupa, sesal bertakdir diurutan akhir. Dan jawaban, ia dapati dari pintu yang kuhempaskan keras-keras.
*

Uap-
Apa yang dibawa kata-kata? Tusukan. Wanita itu mengisak dan memakamkan kematian rasa. Gemuruh dada membuat ia terombang-ambing. Waktu tak pernah membuatnya mengerti.
Wanita itu mengoyak sepi dengan tangis. Dihempaskan semua. Matanya mengembara pada jendela. Bertanya-tanya. Cinta hanya memekarkan bunga-bunga air mata. Ia merasakan tubuhnya mengecil, lalu menguap bersama debu yang abu…

Hoi, lelaki yang meninju dinding. Adakah nurani pingsan di suatu tempat. Napasmu lintang-pukang bersama maaf yang menggumam. Kata-kata menjelma pedang di hati wanita itu. Bagaimana menafsir lubang luka?

Lelaki itu merapatkan tubuhnya di dinding. Ia bersimpuh. Memeluk lutut. Kamarnya menjadi penjara. Ia layu. Bersenyawa ruang.

Peka telah mati seperti ulat-ulat itu. Nanar matanya. Alam hanya melemparkannya pada jurang tak kasat. Ia menaikkan tangan hendak menghitung dosa. Tapi kekuatannya limbung, membuat hela napas itu terdengar putus-putus.

Lelaki itu menjarah ingatannya. Mengenang saat usia sembilan belas. Ia bermohon pada Tuhan agar dikembalikan saja di usia itu. Mungkin, di usia yang sama, ia bisa mengerti dunia wanita itu. Ia menggigit bibir, hendak membagi rasa sakit.

Pernah, di kala gulita menggelapkan pikiran, lelaki itu mengimpi membelai wanita itu. Tapi sesal membelainya lebih dulu dengan duka. Ia meratapi mimpi-mimpi yang mengapung di kertas-kertas puisinya yang tak pernah jadi. Tubuhnya dingin. Ia merasa telah mati hari ini.
*

- Hikayat Ruang-
Di luar, hujan mulai turun. Desis air membuatku terjaga. Dingin. Aku menyalakan lampu. Lelah membawa lelap usai mengisi hari dengan isak. Air memulai lagi merayu angin. Percintaan yang menjadikan tanah memacak luka.

Aku beranjak, hendak menutup tirai. Di seberang, lelaki itu membingkai jendela dengan sosoknya. Hari ini kata-katamu menikam. Mungkin esok kata-katamu menjadi racun. Dan lusa? Entah kata-kata menjadi apa. Aku menatapnya sejenak. Cahaya kamarnya menjelaskan wajahnya. Lelaki itu serupa tanah yang menyimpan limpahan hujan. Lembab.

“Kau tak bisa jatuh cinta.” Aku mengatup tirai. Bersamaan dengan gerak itu, kudapati kesadaran menyentak. Kulitku terlampau merah. Gatal. Makhluk-makhluk awan itu tak bisa membuatku begini.
Aku menjatuhkan pandangan pada lantai ruang tidurku. Ulat-ulat itu kaku ditinggal kehidupan. Mungkin ulat-ulat itu menyalahkanku. Aku mencintai ulat-ulat. Dan siksa lebih pantas untukku.

Terlampau banyak sakit di sini. Tak pernah ketulusan kalah dengan keadaan. Kurasakan gatal itu kini berlipat-lipat. Aku mengatup mata. Takkan melawan lagi. Kenangan kulentingkan menyibak sepi. Membawaku mengembara menembusi gelap yang menganga.
*

-Pemintal Air Mata-
Aku termangu, mengingat kebiasaan. Di waktu menyatu tanah, kerap kita melewati kantuk di jendela. Sedih terpintal di mataku. Serupa pepohonan yang menggigil di luar sana. Kini, aku sendiri mempelajari beling hujan.

Nyaris jenuh mengisi penuh-penuh tubuhku. Tapi semua meruap saat kau kembali ke jendela itu. Wajahmu yang pias meyakinkan: kita akan mengurai sepi semalam-malam. Harapan memantik percik pertama, namun padam sebab kau menutup tirai. Kau menghempasku bersama dosa yang tak pernah mampu kuhitung.

Di jendela, kekosongan mendera-dera. Keriut melesat dari goyangan reranting. Aku mendengarkan tarian hujan. Lama. Tapi siapakah yang meneriaki malam? Aku terkesiap sebab kutahu, itu suaramu. Seketika resah meraja. Menabuh ketakukan secepat degup dadaku.
Aku berlari ke luar. Menerabas hujan usai mendapati siluet ganjil dari jendelamu.
*

-Pelayaran Surga -
Suara lelaki itu bersenyawa hujan. Ia menguak sakit di matanya karena serak memanggil-manggil. Tak ada jawaban. Nyaris ia merusak malam dengan batu. Tapi ia melihat harapan di jendela. Bayangan wanita itu mengubah gigil bibirnya.

Sosok itu menyibak tirai. Menguak jendela. Seperti gelap yang menyimpan rahasia, ia menampakkan separuh badannya.

“Apa aku cantik?”

Lelaki itu terlupa cara melontarkan suara.

“Aku ingin ke surga. Ibu menungguku.”

“Kau hampir tak kukenali.”

“Kita memang tak pernah saling mengenal.” Wanita itu tersenyum. Lalu memandang langit. “Aku tahu, kau tak butuh cinta. Napasmu hanya sepi dan ilham.”

“Katakan, bagaimana waktu mengubahmu?”
“Jangan tanya. Bukankah aku ini keindahan? Katamu, rambutku puisi. Mataku puisi. Tubuhku puisi. Tulislah, apa yang ada ditiap jengkal wanita adalah puisi.” Tubuh wanita itu membuat bayang-bayang pada tanah.

Angin menghembuskan dingin. Menyekap dalam kebisuan sempurna. Mata lelaki itu memincing, disinari kemilau warna-warna. Ia tak mengerti, apa yang disisakan alam pada keganjilan tanahnya kini.
Wanita itu meninggalkan jendela yang membekukan kenangan. Ia lelah menunggu fajar. Ia tak mau melihat malam menambah lingkar hitam di mata lelaki itu lagi. Wanita itu membuat reranting bergoyang sebab tubuhnya. Dan tanah, menjadi saksi akan keganjilan yang pecah bersama hujan.
*
Lelaki itu tak tahu bagaimana mengusir lelap di jendela. Takkan ada sepasang mata yang menjebaknya lagi.
Ia menyadap alam berkabung. Mendengar hujan mengurai puisi sedih untuknya.
Adakah hampa begini meraja? Bagaimana aku menamai keadaan?
Lelaki itu mendongak, menatapi wanitanya menjelma kupu-kupu. Perih mencabik. Matanya basah. Ia luruh seiring wanita itu menjelma titik kecil. Menghilang di ketinggian.
Ada sesuatu menyisakan sayat. Ada hampa memenjara.
Takkan lagi dirasakannya cinta. Meski menyusur gelap mencari entah. Sepi menampar. Menjelma luka. Bergema pada tanah. Melompat ke jendela dan reranting. Memilin. Berakhir getar yang terlahir di bibirnya.
Ia tahu, ini kali pertama ia mendapati waktu mati. Dan kehilangan, melebur bersama musim yang sunyi.

Cerpen Juara I LMCR Rohto  

*Ai El Afif, Mahasiswa FKIP. Universitas Muhammadiyah Malang, Jawa Timur

~Teruntuk orangtuaku yang mengajarkan kekuatan doa